Tanjungpinang – Semarak Ramadan di Kota Tanjungpinang semakin terasa dengan hadirnya promo “Wisata Religi & Buka Puasa” ke Pulau Penyengat. Melalui sebuah flyer yang beredar luas di masyarakat, warga dan wisatawan diajak menikmati suasana berbuka puasa sekaligus menunaikan ibadah di salah satu pulau bersejarah di Kepulauan Riau tersebut.
Program ini menawarkan pengalaman berbeda: menyeberang menggunakan perahu pompon dari Pelabuhan Pelantar II menuju Sri Kuala Riau, Pulau Penyengat, untuk merasakan nuansa religi yang kental di tanah Melayu.
Menyatu dengan Sejarah dan Spiritualitas
Pulau Penyengat dikenal sebagai pusat peradaban Melayu dan Islam di masa Kesultanan Riau-Lingga. Di pulau kecil ini berdiri Masjid Raya Sultan Riau yang ikonik dengan warna kuning cerah, menjadi simbol kejayaan sejarah sekaligus destinasi wisata religi yang tak pernah sepi pengunjung, khususnya di bulan Ramadan.
Melalui paket wisata ini, pengunjung tidak hanya berbuka puasa bersama, tetapi juga dapat melaksanakan salat Maghrib, Isya, hingga Tarawih berjamaah di masjid bersejarah tersebut. Suasana kebersamaan saat berbuka di tengah hembusan angin laut dan panorama senja menjadi daya tarik tersendiri.
“Ramadan di Penyengat itu berbeda. Nuansanya lebih khusyuk dan terasa sekali jejak sejarah Islamnya,” ujar andri seorang warga Tanjungpinang yang rutin berkunjung setiap tahun.
Akses Mudah dengan Pompong
Dalam flyer tersebut dijelaskan bahwa keberangkatan dilakukan dari Pelabuhan Pelantar II menggunakan perahu pompong, transportasi tradisional khas Tanjungpinang. Pompon menjadi sarana utama masyarakat menyeberang ke Pulau Penyengat dengan waktu tempuh relatif singkat.
Panitia atau pengelola juga mencantumkan kontak pemesanan perahu pompon, yakni:
• Satria: 0823 7864 2194
• Sapri: 0813 7646 0386
• Apri: 0813 7253 4037
Dengan sistem pemesanan langsung, rombongan keluarga, komunitas, hingga instansi dapat mengatur jadwal keberangkatan sesuai kebutuhan.
Dorong Ekonomi Lokal
Kegiatan wisata religi seperti ini tidak hanya memperkuat syiar Islam di bulan suci, tetapi juga berdampak pada perputaran ekonomi masyarakat Pulau Penyengat. Pedagang makanan, pengelola kuliner tradisional, penyedia jasa transportasi, hingga pelaku UMKM setempat turut merasakan manfaatnya.
Momentum Ramadan kerap menjadi puncak kunjungan ke Pulau Penyengat. Selain ibadah, wisatawan juga biasanya menyempatkan diri mengunjungi situs-situs bersejarah seperti makam raja-raja, Balai Adat, serta menikmati kuliner khas Melayu.
Penyengat punya kekuatan sejarah, budaya, dan spiritual. Jika dikelola dengan baik, ini bisa menjadi ikon wisata religi di Kepri.
Ramadan yang Penuh Makna
Flyer promosi tersebut menutup dengan ajakan menikmati suasana buka puasa dan ibadah Ramadan di Pulau Penyengat. Bagi masyarakat Tanjungpinang dan sekitarnya, ini menjadi alternatif kegiatan yang tidak sekadar berbuka di restoran atau kafe, melainkan meresapi Ramadan dalam atmosfer religius yang sarat nilai sejarah.
Dengan kombinasi wisata, ibadah, dan kebersamaan, Pulau Penyengat kembali menegaskan diri sebagai jantung spiritual dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau, terutama di bulan suci Ramadan.





Tinggalkan Balasan