Tanjungpinang – Pasar rokok ilegal kembali bergejolak, merek Rave yang mendominasi di kawasan Tanjungpinang-Bintan, kini merangkak naik dan bahkan mendekati harga rokok legal.
Rave Merah sudah berada di kisaran Rp24.000, sementara Rave Menthol menembus Rp25.000 per bungkus. Angka ini bukan hanya melampaui ekspektasi konsumen, tetapi juga memicu gelombang perpindahan besar-besaran ke produk substitusi lain yang lebih murah yaitu rokok tanpa pita cukai merek PSG.
PSG muncul senyap namun cepat merangsek menjadi pilihan baru. Dengan harga hanya Rp11.000, separuh dari Rave bahkan lebih rendah, rokok ini seakan menjadi “pelampiasan ekonomi asap” bagi para perokok kelas menengah ke bawah yang selama ini mengandalkan Rave sebagai alternatif rokok cukai.
Keputusan beralih bukan karena kualitas, melainkan kebutuhan bertahan hidup dalam kebiasaan yang sulit dilepaskan.
Nikotin Murah, Resiko Lebih Tinggi
Dari penelusuran lapangan, sejumlah perokok mengaku tak punya opsi lain untuk pindah ke PSG karena harga.
“Mau bagaimana lagi, harga Rave sudah kayak rokok legal,” ungkap seorang perokok yang kini menetap dengan PSG sebagai pilihan harian.
Kondisi ini menggambarkan realitas keras, rokok ilegal murah tetap punya pasar, bahkan ketika efek kesehatan mengancam. Ada yang berkata rokok ini membuat napas berat, ada pula yang hanya mengedepankan prinsip sederhana yang penting ada yang bisa dihisap.
Harga Naik, Legalitas Kabur, Regulasi Diam
Fenomena migrasi Rave ke PSG menunjukkan lubang besar dalam pengawasan rokok non cukai. Ketika satu produk naik harga, pasar seketika menggantikannya dengan produk baru tanpa kejelasan asal produksi, bahan baku, ataupun izin edar.
Rave mulai mahal, PSG masuk mengisi celah. Persoalannya, sampai kapan lingkaran ini akan dibiarkan berjalan?
Jika Rave pernah menjadi sorotan karena legalitas abu-abu, PSG kini memegang tongkat estafet yang sama. Dan selama kebutuhan nikotin masih tumbuh, pasar akan selalu menemukan jalan bahkan melalui produk yang kualitasnya diragukan.
Rokok Murah Tetap Merekah
Kenaikan harga Rave bukan sekadar masalah konsumsi, tapi cerminan bagaimana regulasi dan ekonomi tembakau ilegal saling mendorong pola baru. PSG hadir bukan sebagai solusi, namun sebagai realita pilihan terjangkau, tapi berpotensi jauh lebih riskan.
Murah memang menggiurkan, tetapi kualitas bisa menjadi harga yang sesungguhnya. Dan di tengah asap yang makin tebal ini, pertanyaan yang tersisa hanya satu:
Apakah masyarakat memilih dompet atau paru-parunya?





Tinggalkan Balasan