Banyuwangi, Ulasfakta.co — Program Inkubasi Ecososiopreneur Selai Buah Naga yang digagas Eco Bhinneka Muhammadiyah di Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, melahirkan inisiatif baru yang tak kalah penting dari sekadar belajar bisnis ramah lingkungan.
Dari ruang belajar yang inklusif itu, muncul gagasan pemetaan pelaku wirausaha dari kalangan teman tuli di seluruh Kabupaten Banyuwangi.
Gagasan ini berawal ketika Putri Pangestu, Ketua Komunitas Tuli Banyuwangi (TALIWANGI), hadir dalam sesi dialog dan pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) yang digelar Eco Bhinneka Muhammadiyah.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai komunitas lintas iman, perempuan, dan pemuda, dengan semangat membangun ekosistem ekonomi yang hijau dan inklusif.
Melihat antusiasme peserta dan kuatnya dukungan terhadap inklusi difabel, Putri tergerak untuk segera bertindak.
“Setelah pulang dari acara Eco Bhinneka, saya langsung buat Google Form dan menyebarkannya ke grup TALIWANGI. Tujuannya untuk mendata teman-teman tuli yang punya usaha, baik kecil maupun rumahan,” ujarnya.
Langkah sederhana itu mendapat sambutan luas. Dalam hitungan hari, puluhan anggota komunitas mengisi formulir dengan beragam jenis usaha, mulai dari kuliner, laundry, sablon, hingga jasa fotografi.
“Banyak teman tuli yang selama ini berjualan tapi belum terdata. Kami ingin data ini menjadi pintu awal menuju kolaborasi dan dukungan nyata,” tambah Putri.
Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi, Zahrotul Janah, menyambut inisiatif tersebut dengan apresiasi tinggi.
Ia menilai gerakan komunitas tuli sejalan dengan spirit ecososiopreneurship yang menempatkan manusia sebagai subjek pemberdayaan tanpa diskriminasi.
“Kami sangat bangga. Apa yang dilakukan Komunitas Tuli ini menunjukkan bahwa inklusi bisa tumbuh dari bawah. Eco Bhinneka Muhammadiyah siap mendukung dengan mem-branding dan memetakan titik-titik lokasi usaha teman tuli di seluruh Banyuwangi,” jelas Zahrotul.
Ke depan, data pelaku usaha tuli tersebut akan diolah menjadi peta digital wirausaha inklusif, berisi informasi sebaran dan jenis usaha yang mereka jalankan.
Peta ini diharapkan memudahkan masyarakat untuk mengenal, mengunjungi, dan bertransaksi langsung dengan pelaku usaha difabel.
“Harapan kami, warga bisa tahu bahwa teman tuli juga punya kemampuan, produk, dan semangat yang luar biasa. Dengan peta ini, Eco Bhinneka ingin membuka jalur ekonomi baru yang adil dan setara,” lanjut Zahrotul.
Inisiatif pendataan ini juga akan menjadi pintu masuk kolaborasi lanjutan antara Eco Bhinneka Muhammadiyah, Dinas Koperasi Banyuwangi, serta Teman Usaha Rakyat.
Melalui program berikutnya, para pelaku usaha tuli direncanakan mendapat pendampingan legalitas usaha, pelatihan pemasaran digital, dan ruang promosi khusus dalam gelaran Festival Buah Naga Inklusif pada 2026 mendatang.
Putri Pangestu berharap gerakan yang berawal dari formulir sederhana ini bisa menginspirasi komunitas difabel lainnya di Banyuwangi dan daerah lain.
“Kami ingin teman tuli tidak hanya dikenal karena keterbatasan, tapi karena karya dan kemandiriannya. Terima kasih Eco Bhinneka Muhammadiyah sudah membuka pintu untuk kami,” ujarnya.
Di tengah kuatnya arus ekonomi hijau dan gerakan keberlanjutan, kolaborasi antara komunitas tuli dan Eco Bhinneka Muhammadiyah menjadi bukti bahwa perubahan bisa tumbuh dari desa, dari komunitas, dan dari solidaritas antarmanusia.
“Dari Temurejo, kita belajar bahwa inklusi bukan slogan, ia hidup lewat aksi nyata,” tutup Zahrotul Janah.




Tinggalkan Balasan