Ulasfakta – Dalam percakapan sehari-hari masyarakat Melayu, istilah endeng atau mengendeng sudah tidak asing lagi. Namun, jangan salah membacanya sebagai ending—dua kata ini serupa penulisan, tetapi jauh berbeda arti dan maknanya.
Endeng dalam bahasa Melayu menggambarkan sikap seseorang yang berusaha mendekati orang lain yang sedang makan, dengan harapan diberikan bagian makanan. Biasanya, perilaku itu disertai dengan ekspresi memelas atau penuh harap, sehingga sang pemilik makanan merasa iba dan akhirnya berbagi.
Uniknya, fenomena mengendeng ini ternyata kerap terjadi pula dalam dunia politik, terutama menjelang dan sesudah pemilihan umum. Mereka yang gagal memenangkan kontestasi politik, bukannya menjadi oposisi yang bermartabat, justru sibuk mencari celah untuk tetap mendapatkan “jatah kekuasaan” lewat jalur tak resmi, alias mengendeng.
Strategi Mengendeng Politik
Ketua kelompok masyarakat atau partai politik yang awalnya mendukung kandidat tertentu, bisa saja berbalik arah setelah kalah dalam pemilu. Mereka lantas mendekati kubu pemenang, menawarkan dukungan dengan berbagai alasan demi memperoleh posisi, proyek, atau keuntungan politik lainnya. Istilah ini, dalam bahasa politik praktis disebut “pengendengan kekuasaan”.
“Tak sedikit kelompok atau individu yang sebelum pemilu mati-matian menyerang kandidat lawan, tetapi setelah kalah, mereka justru datang merapat, mencari simpati agar tetap mendapat peran,” ujar seorang pengamat politik Kepulauan Riau, Senin (1/6).
Strategi ini juga sering kali diatur sedemikian rupa. Satu kelompok besar dibagi menjadi dua, sebagian mendukung kandidat A, sebagian lagi mendukung kandidat B. Dengan pola itu, siapapun yang menang, mereka tetap berada di lingkaran kekuasaan.
Koalisi Fleksibel, Pengendengan Menguat
Fenomena pengendengan ini tak lepas dari sistem politik yang longgar. Tidak seperti negara dengan koalisi yang ketat, di mana kubu oposisi tetap menjaga prinsip sebagai penyeimbang, di banyak daerah, koalisi mudah berubah setelah pemilu selesai.
Partai-partai yang kalah di legislatif atau calon eksekutif yang gagal terpilih, banyak yang akhirnya berlabuh ke koalisi pemenang. Bukan tanpa alasan, mereka ingin tetap mendapatkan bagian dari kekuasaan.
Figur Politik Pun Tak Luput
Bukan hanya kelompok, para individu yang pernah menjadi pemimpin, baik di legislatif maupun eksekutif, juga kerap terjebak dalam strategi mengendeng. Ketika tak lagi berkuasa, sebagian dari mereka tak siap menerima kenyataan. Demi tetap tampil di hadapan publik, mereka rela bergabung, bahkan mengelus-ngelus sosok yang dulunya jadi lawan politik.
“Hasrat untuk tetap dikenal dan diperhitungkan sering membuat orang lupa prinsip. Kadang demi sebuah panggung kecil, mantan pemimpin rela menanggalkan harga diri,” tambah pengamat tersebut.
Masyarakat Mulai Jengah
Meski praktik mengendeng politik dianggap lumrah oleh sebagian kalangan, tak sedikit masyarakat yang mulai merasa muak. Publik menilai, politik seharusnya menjadi ajang adu gagasan, bukan arena saling mendekat hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
“Sikap oportunis semacam itu mencederai harapan rakyat. Pemimpin seharusnya memberi teladan, bukan justru tampil memelas demi kekuasaan,” kata seorang warga Tanjungpinang.
Fenomena pengendengan ini menjadi cerminan bahwa etika politik di negeri ini masih perlu diperkuat. Di balik senyum-senyum simpati dan jabat tangan di depan publik, tersimpan berbagai kepentingan yang kerap melupakan prinsip, harga diri, bahkan logika politik sehat.




Tinggalkan Balasan