Tanjungpinang – Langit di Jalan Rawasari, Kelurahan Kampung Bulang, Tanjungpinang Timur, mulai berubah warna ketika matahari perlahan turun ke ufuk barat. Sinar keemasan senja menyapu deretan rumah-rumah sederhana, memantul di jalan kecil yang sore itu tampak lebih ramai dari biasanya.

Warga berdatangan satu per satu. Ada yang berjalan kaki, ada yang berboncengan motor, sebagian lagi menggandeng anak mereka. Mereka tahu, seperti tahun-tahun sebelumnya, sore itu akan ada pembagian paket Imlek, tradisi yang selalu dinanti menjelang Tahun Baru Imlek.

Di tengah keramaian sederhana itu, berdiri Yakbun, yang akrab disapa A Bun, Owner PT Bintan Mobil. Tanpa seremoni berlebihan, ia menyambut warga dengan senyum dan sapaan hangat. Bagi masyarakat Tionghoa kurang mampu di kawasan itu, kehadiran A Bun setiap menjelang Imlek bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan simbol kepedulian yang konsisten.

Tahun Baru Imlek 2577, yang dikenal sebagai Tahun Kuda Api, kembali menjadi momentum berbagi. Tahun 2026 ini, A Bun menyalurkan 117 paket Imlek kepada warga yang membutuhkan di Tanjungpinang, khususnya di Rawasari.

“Ada sekitar seratus lebih paket Imlek dibagikan kepada warga yang sangat membutuhkan tahun ini,” ujar A Bun kepada awak media, Rabu (11/02/2026), di sela kegiatan.

Pembagian paket sembako oleh A Bun | foto: ulf

Tradisi yang Selalu Dinanti

Senja semakin meredup, namun suasana justru terasa hangat. Paket-paket tersusun rapi, masing-masing berisi beras 5 kilogram, minuman kaleng, serta jeruk yang menjadi simbol keberuntungan dalam tradisi Imlek.

Bagi banyak keluarga, bantuan ini bukan sekadar pelengkap. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil, tambahan beras dan kebutuhan perayaan sangat berarti agar perayaan Imlek tetap bisa dirasakan dengan layak bersama keluarga.

Seorang ibu paruh baya tampak tersenyum saat menerima paketnya. “Alhamdulillah, bisa untuk tambah-tambah kebutuhan Imlek,” ucapnya lirih.

Di momen seperti inilah makna kebersamaan terasa nyata. Tidak ada jarak antara pemberi dan penerima. A Bun bahkan menyempatkan diri berbincang singkat dengan beberapa warga, menanyakan kabar, dan mendoakan agar tahun yang baru membawa kebaikan.

Berbagi sebagai Kewajiban Moral

Bagi A Bun, berbagi bukanlah program sesaat atau sekadar rutinitas tahunan. Ia menyebutnya sebagai kewajiban bagi mereka yang diberi kelebihan rezeki.

“Berbagi kepada orang yang membutuhkan itu sangat penting. Itu kewajiban bagi kita semua yang memiliki rezeki lebih,” ujarnya.

Ia berharap, paket yang diberikan dapat membantu warga merayakan Tahun Baru Imlek dengan lebih tenang dan bahagia.

“Semoga apa yang kita berikan ini bermanfaat bagi yang membutuhkan untuk merayakan Tahun Baru Imlek,” tambahnya.

Kuda Api dan Semangat Baru

Dalam kepercayaan Tionghoa, Tahun Kuda Api melambangkan energi, keberanian, dan semangat pantang menyerah. Api menjadi simbol gairah dan transformasi, sementara kuda identik dengan kerja keras serta daya juang.

Nilai-nilai itulah yang terasa selaras dengan semangat berbagi sore itu. Di tengah cahaya senja yang perlahan meredup, ada harapan yang justru menyala.

“Semoga rezeki kita dilancarkan di tahun Kuda Api ini,” pungkas A Bun.

Ketika matahari benar-benar tenggelam dan langit berubah menjadi gelap kebiruan, satu per satu warga meninggalkan lokasi dengan membawa paket di tangan dan senyum di wajah. Tidak ada kemewahan, tidak ada kemegahan hanya kebersamaan sederhana yang menguatkan makna Imlek sesungguhnya.

Di sudut Rawasari sore itu, Tahun Baru bukan hanya tentang pergantian angka dalam kalender. Ia menjadi pengingat bahwa keberuntungan terbaik adalah ketika kita bisa berbagi, dan kebahagiaan paling tulus adalah saat tidak ada yang merasa sendirian dalam merayakannya.