Ulasfakta.co – Gelombang kritik kembali datang dari kalangan muda hulubalang. Capt Rio, tokoh muda adat yang juga berprofesi sebagai nakhoda kapal offshore, menilai proses pengisian jabatan hulubalang di Kepri perlu ditinjau ulang.
Menurut dia, posisi hulubalang tidak boleh diisi tanpa mekanisme seleksi yang jelas, mengingat jabatan itu bukan sekadar simbol kehormatan, melainkan barisan terdepan penjaga marwah adat Melayu.
Sorotan itu menguat setelah nama Endi Maulidi muncul dalam struktur LAM Kepri. Capt Rio mengatakan kondisi tersebut perlu dievaluasi agar tidak menimbulkan kesan bahwa jabatan hulubalang bisa diberikan tanpa standar yang baku.
“Hulubalang adalah simbol kekuatan dan ketegasan dalam adat Melayu. Ia tidak boleh dipilih asal tunjuk. Aturan adat, AD/ART LAM Kepri, dan prinsip kepantasan harus menjadi pedoman,” ujar Capt Rio, Rabu, 19 November 2025.
Desakan Uji Kelayakan
Capt Rio meminta Ketua LAM Kepri segera menyusun dan menerapkan uji kelayakan atau fit and proper test bagi calon hulubalang. Uji itu, kata dia, perlu mencakup karakter dan integritas, mental dan kedisiplinan, fisik dan ketahanan diri, rekam jejak pengabdian, kepemimpinan dan kapasitas sosial budaya.
Tanpa mekanisme tersebut, menurut Capt Rio, jabatan hulubalang dapat kehilangan wibawa dan legitimasi di mata masyarakat.
“LAM Kepri harus tegak di atas aturan adat. Jika hulubalang adalah benteng marwah, maka seleksinya harus profesional, transparan, dan terukur,” katanya.
Usulan Figur: Dato’ Yudi Irawan

Dalam pernyataannya, Capt Rio menilai Dato’ Yudi Irawan sebagai sosok yang paling memenuhi syarat untuk memimpin Ketua Hulubalang Kepri saat ini.
“Jika berbicara kelayakan, karakter, dan rekam jejak pengabdian terhadap adat Melayu, Dato’ Yudi adalah figur yang pantas. Beliau punya kepemimpinan dan ketegasan yang sesuai dengan ruh hulubalang,” ucapnya.
Menurut dia, Dato’ Yudi memiliki perpaduan tokoh, wibawa, dan kapasitas yang dibutuhkan untuk menata kembali hulubalang Kepri.
Mempertegas Peran Hulubalang
Capt Rio mengingatkan bahwa jabatan hulubalang tidak bisa disamakan dengan posisi administratif. Dalam tradisi Melayu, hulubalang adalah penjaga kedaulatan adat,bpelindung masyarakat adat, simbol keberanian dan integritas, perisai martabat lembaga adat.
“Jika salah menempatkan hulubalang, yang runtuh bukan hanya struktur, tetapi juga wibawa adat,” ujarnya.
Harapan untuk LAM Kepri
Capt Rio berharap momentum ini menjadi awal pembenahan struktural, khususnya penyusunan standar pemilihan tokoh adat. Ia menegaskan bahwa keteraturan proses pemilihan merupakan kunci menjaga marwah adat Melayu di Kepri.
“Adat tidak boleh berjalan berdasarkan selera. Adat harus berjalan berdasarkan aturan. Jika aturan ditegakkan, wibawa akan tumbuh. Sudah saatnya LAM Kepri bersikap tegas,” kata dia.




Tinggalkan Balasan