Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi bahasa mayoritas, bahasa-bahasa daerah di Indonesia menghadapi ancaman yang semakin nyata. Perlahan tetapi pasti, banyak bahasa kehilangan penuturnya, tersisih dari ruang pendidikan, dan jarang digunakan dalam dunia digital. Salah satu bahasa yang kini berada dalam kondisi mengkhawatirkan adalah bahasa Mentawai.

Berdasarkan UNESCO Atlas of the World’s Languages in Danger, bahasa Mentawai dikategorikan sebagai definitely endangered atau terancam punah. Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa tersebut masih digunakan oleh generasi dewasa, tetapi mulai ditinggalkan oleh generasi muda. Di ruang formal, pendidikan, hingga media digital, bahasa Mentawai semakin jarang terdengar dan digunakan.

Kondisi ini menjadi alarm serius. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga penanda identitas, penjaga nilai budaya, serta penyimpan pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi. Ketika sebuah bahasa punah, yang hilang bukan hanya kosakata, tetapi juga cara pandang, kearifan lokal, dan memori kolektif suatu masyarakat. Kehilangan bahasa berarti kehilangan sebagian jati diri bangsa.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Radi Sukma bersama tim menggagas sebuah terobosan literasi berbasis teknologi: Kamus Digital Mentawai SIMAERUK. Inisiatif ini lahir dari keyakinan bahwa bahasa daerah tidak seharusnya berhadap-hadapan dengan teknologi, melainkan dapat tumbuh dan beradaptasi melalui teknologi itu sendiri. SIMAERUK dirancang sebagai upaya konkret untuk merevitalisasi bahasa Mentawai agar tetap hidup, relevan, dan dekat dengan generasi masa kini.

Radi Sukma merupakan mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Padang (UNP) sekaligus Duta Bahasa Sumatra Barat. Ia dikenal aktif menggiatkan literasi kebahasaan dan pelestarian bahasa daerah di berbagai ruang edukasi. Bersama timnya, Radi memadukan semangat akademik, kepedulian budaya, dan pendekatan digital yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

SIMAERUK dapat diakses secara bebas melalui laman https://simaeruk.my.id. Kamus digital ini dirancang praktis, mudah digunakan, dan ramah bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, hingga masyarakat umum. Dengan dukungan internet, SIMAERUK memungkinkan siapa pun mengakses kosakata bahasa Mentawai kapan saja dan di mana saja. Kehadirannya menjadi jembatan antara bahasa lokal dan ekosistem literasi digital yang selama ini didominasi bahasa global.

Lebih dari sekadar daftar kosakata, SIMAERUK menjadi simbol perlawanan terhadap kepunahan bahasa. Kamus ini membuka peluang pemanfaatan bahasa Mentawai dalam pembelajaran di sekolah, penelitian akademik, penulisan karya ilmiah, hingga pengembangan konten kreatif berbasis budaya lokal. Dengan demikian, bahasa Mentawai tidak hanya disimpan, tetapi juga digunakan dan dihidupkan kembali dalam berbagai konteks.

Upaya yang dilakukan Radi Sukma dan tim menunjukkan bahwa literasi bahasa tidak berhenti pada aktivitas membaca dan menulis. Literasi juga berarti keberpihakan—keberpihakan pada bahasa-bahasa minoritas agar tetap memiliki ruang hidup di tengah arus modernisasi. Inisiatif ini sejalan dengan peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus agen pelestarian kebudayaan.

Melalui SIMAERUK, bahasa Mentawai tidak hanya diupayakan untuk diselamatkan, tetapi juga diperkenalkan kembali kepada generasi muda dengan cara yang lebih dekat dengan dunia mereka. Dari Mentawai menuju ranah digital, SIMAERUK menyalakan harapan bahwa bahasa daerah akan terus hidup, berkembang, dan bermakna di tengah perubahan zaman.