Ulasfakta – Bagi Pemerintah Kota Tanjungpinang, keluarga bukan hanya urusan rumah tangga, tetapi fondasi utama pembangunan daerah. Melalui program Keluarga Berencana (KB), upaya mewujudkan keluarga sehat, sejahtera, dan bebas stunting kini menjadi strategi besar yang terus digalakkan.
Visi pembangunan BIMA SAKTI singkatan dari Berbudaya, Indah, Melayani, dan Aman untuk mewujudkan masyarakat yang Sejahtera, Agamis, Kreatif, Berteknologi, dan Berintegritas, yang merupakan vis Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang,Wali Kota H. Lis Darmansyah, SH, dan Wakil Wali Kota Drs. Raja Ariza, M.M, menjadi landasan dari semua kebijakan.
Di bawah kepemimpinan Lis Darmansyah dan Raja Ariza, program KB tidak sekadar mengejar angka peserta, tetapi juga memastikan kualitas layanan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan KB Kota Tanjungpinang, Rustam, SKM, M.Si, menegaskan bahwa KB bukan sekadar mengendalikan kelahiran, melainkan strategi penting untuk meningkatkan kualitas keluarga dan generasi mendatang.
“Program KB memberi ruang bagi setiap keluarga untuk merencanakan masa depan. Dengan keluarga yang sehat dan terencana, kita bisa menekan angka stunting dan melahirkan generasi emas Kota Tanjungpinang,” kata Rustam, Kamis (21/8/2035).

Capaian Peserta KB Aktif dan Layanan Edukasi KB
Rustam menjelaskan hingga Juli 2025, jumlah peserta KB aktif di Kota Tanjungpinang mencapai 20.103 orang, tersebar di empat kecamatan. Angka ini menunjukkan tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya pengaturan kelahiran.
Kecamatan Tanjungpinang Timur menjadi yang terbanyak dengan 10.824 peserta, dominan menggunakan suntik dan pil. Disusul Bukit Bestari dengan 4.461 peserta, Tanjungpinang Barat 2.758 peserta, dan Tanjungpinang Kota 2.060 peserta.
Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) seperti implan, IUD, tubektomi, dan vasektomi juga cukup diminati, menandakan masyarakat semakin paham manfaat penggunaan kontrasepsi yang efektif dan berkelanjutan.
Pemerintah Kota Tanjungpinang tidak berhenti pada layanan medis semata. Sosialisasi rutin dilakukan melalui kader PKK, tokoh masyarakat, posyandu, hingga sekolah-sekolah.
Edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja pun diperkuat melalui program Generasi Berencana (GenRe). Sementara itu, pasangan usia subur mendapat layanan konseling, informasi alat kontrasepsi modern, hingga pelayanan gratis di puskesmas.
Rustam menjelaskan, keterjangkauan layanan menjadi kunci. “Kami ingin layanan KB tidak hanya ada di pusat kota, tapi menjangkau hingga pelosok, pesisir, bahkan pasar tradisional. Semua keluarga harus punya kesempatan yang sama untuk merencanakan masa depan,” jelasnya.
Pencegahan Stunting dan Inovasi Layanan KB dan Program KB terbukti berkontribusi besar dalam percepatan penurunan stunting. Dengan mengatur jarak kelahiran, ibu bisa pulih lebih baik setelah melahirkan, dan anak mendapat asupan gizi optimal.
Pendampingan calon pengantin juga dijalankan untuk memastikan kesiapan gizi dan kesehatan reproduksi sebelum membangun keluarga. Selain itu, penyediaan alat kontrasepsi yang merata hingga ke wilayah terpencil membuat layanan KB semakin inklusif.
Tanjungpinang juga menjadi salah satu daerah yang inovatif dalam menjalankan program KB. Pos pelayanan KB di pasar tradisional, pencatatan digital peserta, hingga penyediaan MKJP gratis di puskesmas menjadi langkah konkret.
Program KB gratis di praktek bidan swasta, hasil kerja sama dengan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan BKKBN, juga mendapat sambutan hangat masyarakat.

Kemitraan dengan Rumah Sakit dan Klinik
Rustam menyebutkan, kemitraan dengan bidan swasta membuka akses lebih luas bagi masyarakat. “Bidan adalah ujung tombak di lapangan. Dengan sinergi ini, layanan KB bisa hadir lebih dekat dan lebih ramah bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain dengan bidan, Pemkot juga menjalin kemitraan dengan klinik dan rumah sakit, termasuk Klinik Alaza yang dipimpin dr. Defri, Sp.OG, untuk memberikan layanan MKJP berupa Metode Operasi Wanita (MOW) dan Metode Operasi Pria (MOP).
Langkah ini membuktikan bahwa layanan KB di Tanjungpinang tidak hanya fokus pada kuantitas, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan.
Dengan fasilitas medis yang memadai, masyarakat bisa lebih percaya diri memilih metode kontrasepsi yang sesuai kebutuhan, aman, dan efektif.
Program KB di Tanjungpinang dijalankan dengan semangat gotong royong. Kolaborasi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, dan lembaga masyarakat menjadi kunci keberhasilan.
Wali Kota dan Ketua PKK bahkan turut aktif mendukung, memastikan program ini tidak sekadar wacana, tetapi benar-benar menyentuh kehidupan keluarga.
Sinergi inilah yang membuat Tanjungpinang mampu membangun keluarga tangguh, sehat, dan sejahtera, sekaligus mengendalikan laju pertumbuhan penduduk.
Menuju Kota Keluarga Sejahtera
Bagi Rustam, program KB adalah pintu masuk menuju pembangunan manusia yang berdaya saing. “Keluarga yang sehat dan terencana adalah modal utama membangun kota yang berbudaya, harmonis, dan sejahtera,” tegasnya.
Dengan visi BIMA SAKTI, Tanjungpinang menempatkan keluarga sebagai pusat pembangunan. Bukan hanya soal pengendalian kelahiran, tetapi juga kesejahteraan, kesehatan, dan kualitas hidup.
Program KB pun menjadi bukti nyata bahwa pemerintah hadir, peduli, dan bekerja untuk masa depan masyarakatnya. Dari keluarga yang sehat, lahirlah generasi yang berkarakter dan siap membawa Tanjungpinang menuju masa depan gemilang.




Tinggalkan Balasan