Tanjungpinang — Penurunan curah hujan dalam beberapa waktu terakhir membuat wilayah Tanjungpinang dan Bintan mulai memasuki fase kering lebih awal, berdampak pada menipisnya cadangan air dan meningkatnya potensi kebakaran hutan serta lahan.
Prakirawan BMKG Tanjungpinang, Hayu Nur Mahron, menyebut kondisi cuaca saat ini didominasi cerah hingga berawan, dengan hujan yang jarang terjadi dan hanya bersifat lokal dengan intensitas ringan.
“Minimnya hujan dipengaruhi suhu muka laut di wilayah utara Kepri yang cenderung netral hingga lebih dingin, sehingga pasokan uap air ke atmosfer berkurang,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (25/03/2026).
Selain itu, kelembapan udara di lapisan atas yang relatif kering turut menghambat pembentukan awan hujan. Kondisi tersebut diperkuat dengan melemahnya aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) di wilayah Bintan.
“Fase suppressed pada MJO membuat pertumbuhan awan hujan melemah sehingga peluang hujan semakin kecil,” jelasnya.
Sementara itu, fenomena global seperti El Nino, La Nina, dan Indian Ocean Dipole (IOD) saat ini berada dalam kondisi netral dan tidak memberikan dampak signifikan terhadap cuaca di wilayah Kepulauan Riau.
BMKG memprakirakan cuaca cerah hingga berawan masih akan mendominasi Tanjungpinang–Bintan pada periode 25 Maret hingga 2 April 2026. Peluang hujan diperkirakan mulai muncul secara terbatas menjelang akhir Maret.
“Peluang hujan masih kecil, namun ada kecenderungan meningkat sekitar 29 Maret hingga awal April,” kata Hayu.
Untuk curah hujan bulanan, April diperkirakan berada pada kisaran 50–150 mm, meningkat pada Mei menjadi 100–200 mm, dan kembali menurun pada Juni di kisaran 75–150 mm.
Meski demikian, curah hujan di bawah normal sejak Januari hingga pertengahan Maret telah memicu kekeringan meteorologis di sebagian besar wilayah Pulau Bintan.
“Kondisi ini berpotensi berkembang menjadi kekeringan hidrologis, ditandai dengan penurunan debit sungai, berkurangnya cadangan air tanah, hingga menyusutnya volume tampungan air atau waduk,” ungkapnya.
Situasi tersebut berpotensi memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan sekaligus mengganggu ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar serta lebih bijak dalam penggunaan air.
“Gunakan air secara hemat dan hindari pembakaran lahan untuk mencegah kebakaran,” tegasnya.
Pemerintah daerah juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan dengan memantau informasi Hari Tanpa Hujan (HTH) dan peringatan dini karhutla.
Secara klimatologis, musim kemarau tahun ini diperkirakan datang lebih cepat, berdurasi lebih panjang, dan dengan kondisi yang lebih kering dibandingkan pola normal beberapa tahun terakhir.
(Kev)





Tinggalkan Balasan