Di pusat Kota Tanjungpinang tak selalu menyisakan ruang bagi kisah-kisah sunyi. Di Kampung Bakau, Jalan Sei Jang, Kecamatan Bukit Bestari, sebuah rumah berdinding papan berdiri ringkih, nyaris roboh, seolah luput dari perhatian siapa pun yang berlalu-lalang.
Rumah itu beratap bocor di banyak sisi. Lantainya lapuk, dindingnya berderit diterpa angin laut. Di sanalah Nek Leba, 68 tahun, menghabiskan hari-harinya. Setiap kali hujan turun, ia sibuk memindahkan tikar dan barang seadanya agar tak seluruhnya basah oleh tetesan air dari atap yang berlubang.
Malam hari menjadi waktu paling berat. Angin kencang dari laut membuat papan-papan rumah bergetar, menegaskan betapa rapuh tempat berlindung yang ia sebut rumah.
“Kalau hujan dan angin besar, kami susah tidur,” kata warga sekitar yang kerap melihat kondisi rumah itu.
Nek Leba tidak hidup sendiri. Ia tinggal bersama mamak angkatnya yang juga telah lanjut usia, serta seorang anak yang menjadi tulang punggung keluarga.
Anak Nek Leba bekerja sebagai nelayan kecil. Dengan perahu sederhana, ia melaut mencari ikan. Penghasilannya tak menentu, sepenuhnya bergantung pada cuaca.

Saat laut bersahabat, ada sedikit hasil untuk membeli beras dan kebutuhan harian. Namun ketika ombak tinggi dan angin tak bersahabat, dapur rumah itu nyaris tak berasap. Mereka hanya bisa bertahan dengan apa yang ada.
Kondisi rumah kian memprihatinkan. Dapur serta kamar mandi dan WC yang terbuat dari papan kini hampir ambruk. Fasilitas itu tak lagi bisa digunakan.
Untuk mandi dan buang air, Nek Leba dan keluarganya harus mencari cara lain yang serba terbatas, sebuah kenyataan pahit bagi keluarga renta di tengah kota.
Meski hidup dalam kekurangan, wajah Nek Leba tetap menyimpan kesabaran. Keriput di wajahnya menjadi penanda perjalanan panjang hidup yang keras. Ia tak meminta banyak. “Asal rumah ini bisa diperbaiki sedikit, tak bocor lagi,” harapnya sederhana.
Baginya, rumah yang lebih layak untuk berteduh, atap yang tak lagi bocor, serta kamar mandi dan WC yang aman sudah lebih dari cukup. Di usia yang kian renta, ia hanya ingin menjalani hari tanpa rasa cemas setiap kali hujan turun atau angin kencang berhembus.
Ironisnya, hingga kini keluarga kecil itu belum sepenuhnya tersentuh bantuan sosial, padahal kondisi ekonomi mereka tergolong sangat memprihatinkan. Mereka bertahan dengan hasil laut dan kepedulian tetangga yang sesekali membantu.
Kisah Nek Leba menjadi potret nyata masih adanya warga yang hidup di rumah tak layak huni, terpinggirkan di tengah geliat pembangunan kota. Harapan pun disematkan agar pemerintah daerah, dinas terkait, maupun para dermawan mau menengok langsung kondisi rumah rapuh itu.
Di Kampung Bakau, di balik dinding papan yang kian renta, Nek Leba terus menanti. Bukan semata bantuan, melainkan kepedulian agar sisa hidupnya dapat dijalani dengan lebih manusiawi di negeri sendiri.




Tinggalkan Balasan