Tanjungpinang – Kemampuan bahasa Inggris pelajar sekolah menengah di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) masih menjadi pekerjaan rumah serius. Berdasarkan data Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025, nilai rata-rata Bahasa Inggris siswa Kepri tercatat 26,85, jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 37,43. Capaian ini menempatkan Bahasa Inggris sebagai salah satu mata pelajaran dengan performa terendah di daerah tersebut.
Anggota Komisi IV DPRD Kepri yang membidangi pendidikan, Ririn Warsiti, S.E., M.M., menilai hasil tersebut sebagai peringatan penting bagi kualitas pendidikan di Kepri. Menurutnya, penguasaan bahasa Inggris saat ini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kompetensi dasar yang menentukan daya saing pelajar di tingkat nasional maupun internasional.
“Angka ini menjadi alarm bagi kita semua. Bahasa Inggris adalah kunci untuk membuka akses pendidikan tinggi luar negeri dan peluang beasiswa global,” ujarnya.
Ririn menjelaskan, rendahnya capaian tersebut dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya metode pembelajaran yang masih berfokus pada teori dan hafalan, kurangnya praktik komunikasi dalam proses belajar-mengajar, serta keterbatasan kualitas dan pemerataan guru bahasa Inggris di berbagai wilayah Kepri. Selain itu, minimnya penggunaan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari juga membuat siswa sulit mengasah kemampuan secara alami.
“Kita terlalu lama menempatkan bahasa Inggris hanya sebagai mata pelajaran, bukan sebagai keterampilan komunikasi yang harus dilatih setiap hari,” tegasnya.
Ia mengingatkan, lemahnya penguasaan bahasa Inggris akan berdampak jangka panjang. Banyak perguruan tinggi ternama dan lembaga pemberi beasiswa luar negeri menetapkan skor kemampuan bahasa Inggris sebagai syarat utama seleksi. Tanpa kompetensi memadai, peluang pelajar Kepri untuk bersaing di tingkat global akan semakin terbatas.
Karena itu, Komisi IV DPRD Kepri mendorong pemerintah daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembelajaran bahasa Inggris di sekolah. Langkah tersebut mencakup peningkatan kompetensi guru, penerapan metode pembelajaran yang lebih komunikatif dan interaktif, serta penguatan program pendukung seperti kelas tambahan, klub bahasa, hingga kerja sama internasional.
“Tanpa pembenahan yang terstruktur dan berkelanjutan, Kepri berisiko tertinggal dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing secara nasional dan global,” tutup Ririn.




Tinggalkan Balasan