Tanjungpinang — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Usman Harun menargetkan penyaluran sekitar seribu porsi makan bergizi pada tahap awal operasional program. Penyaluran tersebut akan menyasar posyandu serta satuan pendidikan di sekitar wilayah Tanjungpinang Barat.
Kepala SPPG Usman Harun, Jeremy Christian, mengatakan pada tahap awal pihaknya menyiapkan sekitar seribu paket makanan bergizi yang diperuntukkan bagi penerima manfaat dari posyandu, taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), serta kelompok bermain (KB).
“Untuk tahap awal kami di angka seribuan porsi, sekitar seribu paket. Dimulai dari posyandu, TK, SD, dan KB,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sasaran distribusi dilakukan secara bertahap, dimulai dari posyandu, kemudian dilanjutkan ke sekolah-sekolah yang berada di sekitar lokasi SPPG.
“Untuk sekolah, kami prioritaskan yang berada di sekitar sini,” katanya.
Jeremy menyebut, program ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat gizi bagi penerima, tetapi juga berdampak langsung pada masyarakat sekitar.
“Harapannya bisa membantu warga sekitar, membuka peluang kerja, dan penerima manfaat mendapatkan hak mereka dari program ini,” ucapnya.
Dalam operasionalnya, SPPG Usman Harun melibatkan sekitar 40 relawan yang mayoritas berasal dari warga sekitar. Ia menegaskan perannya sebagai kepala SPPG lebih kepada koordinator dan pengawas pelaksanaan program.
Terkait kebutuhan pangan, Jeremy menyampaikan bahwa pengadaan bahan makanan dilakukan melalui mitra kerja sama yang telah ditunjuk. Namun demikian, terdapat arahan agar pemasok juga melibatkan petani dan pelaku UMKM lokal, termasuk untuk komoditas telur.
“Untuk kebutuhan pangan diserahkan ke mitra. Tapi ada arahan juga agar membantu petani dan UMKM sekitar sebagai pemasok,” jelasnya.
Rencana operasional SPPG Usman Harun dijadwalkan mulai berjalan pada minggu kedua Februari, dengan kepastian tanggal menunggu kehadiran tenaga ahli gizi.
Distribusi makanan akan dilakukan setiap hari kerja, mulai Senin hingga Jumat. Khusus posyandu, penyaluran dilakukan dua kali dalam sepekan, yakni pada Senin dan Kamis, dengan menu yang disesuaikan antara makanan basah dan makanan kering.
“Kalau sekolah libur, distribusi juga libur. Selanjutnya menunggu kebijakan apakah dialihkan ke sasaran lain,” katanya.
Selama bulan Ramadan, program tetap berjalan dengan menyesuaikan regulasi dari pemerintah pusat.
Untuk menu makanan, Jeremy memastikan seluruh kebutuhan gizi ditentukan oleh ahli gizi dan kepala koki, dengan perhitungan gizi yang terukur. Selain itu, pengawasan dari Dinas Kesehatan juga akan dilakukan.
“Pasti ada pengecekan, karena kami membutuhkan sertifikasi dapur dan petugas pengolah makanan. Untuk izin laik sehat akan menyusul,” tutupnya.
(kev)





Tinggalkan Balasan