Batam – Atlet taekwondo Kepulauan Riau, Winda Dwi Putri, kembali menorehkan prestasi di level internasional. Peraih emas PON tersebut sukses membawa pulang medali perunggu pada ajang SEA Games 2025 yang berlangsung di Bangkok, Thailand, pada nomor kelas under 48–49 kilogram.

Setibanya di Tanah Air, Winda disambut hangat oleh jajaran pelatih dan para atlet Taekwondo Indonesia (TI) Kepulauan Riau di Bandara Internasional Hang Nadim, Batam, Selasa (16/12/2025). Penyambutan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas capaian atlet muda yang kini menjadi salah satu andalan Kepri di cabang taekwondo.

Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi TI Kepri, Wahyu Eko, mengaku bangga atas pencapaian tersebut. Ia menilai Winda sebagai atlet potensial yang konsisten menunjukkan performa positif sejak level nasional hingga internasional.

“Ini penjemputan atlet SEA Games. Winda berasal dari CTC Batam dan mewakili Indonesia, khususnya Kepulauan Riau. Di usianya yang masih 22 tahun, ia sudah mengoleksi emas PON dan kini medali SEA Games,” ujar Wahyu.

Menurutnya, setelah menjuarai PON XXI Aceh–Sumut, Winda langsung menjalani program latihan ketat. Hasilnya, ia mampu bersaing di SEA Games dengan selisih nilai yang sangat tipis dari peraih medali perak.

“Pengalamannya sudah cukup matang. Winda juga pernah turun di open tournament internasional di Korea dan China, dan meraih posisi tiga,” tambahnya.

Saat ini, Winda berada di bawah asuhan Master Kosasi Sumarli, pemegang Dan 7 Kukkiwon, yang juga menjabat sebagai Ketua Pengprov Taekwondo Indonesia Kepulauan Riau.

Lebih jauh, Wahyu Eko menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan terhadap pembinaan atlet di Kepri. Ia mendorong pemerintah daerah untuk kembali mengaktifkan Training Center (TC) maupun Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar Daerah (PPLPD) yang sempat terhenti sejak 2023 hingga pertengahan 2024.

“Padahal kita sudah punya juara PON dan atlet SEA Games. TC dan PPLPD ini sangat penting untuk regenerasi atlet,” tegasnya.

Selain pembinaan, aspek kesejahteraan atlet juga menjadi sorotan. Menurut Wahyu, atlet membutuhkan jaminan dukungan ekonomi agar dapat fokus menjalani latihan.

“Kondisi wilayah Kepri yang terpisah-pisah juga menyulitkan sparring partner. Bintan, Tanjungpinang, Natuna terpisah laut, sehingga kami sering harus keluar daerah seperti Jakarta atau Pekanbaru dengan biaya pribadi,” jelasnya.

Untuk ajang besar seperti SEA Games, Wahyu menyebutkan seluruh pembiayaan ditanggung pemerintah melalui program pemusatan latihan nasional (Pelatnas). Sementara beberapa turnamen internasional lainnya, seperti di Thailand, Korea, dan China, difasilitasi oleh pihak penyelenggara.

“Winda dipanggil Pelatnas setelah menjadi juara PON. Dari sana ia menjalani latihan intensif hingga tampil di SEA Games,” pungkas Wahyu.