Ulasfakta – Di tengah tugas menjaga keamanan perbatasan, Bripka Mudiyanto, anggota Bhabinkamtibmas dari Polsek Bunguran Timur, mencuri perhatian publik. Ia bukan hanya hadir sebagai penjaga ketertiban, namun juga sebagai penggerak literasi anak-anak pelosok di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.

Sejak pertama kali ditugaskan di Natuna pada 2017, Mudiyanto melihat rendahnya minat baca anak-anak dan minimnya ketersediaan buku sebagai tantangan besar. Keprihatinan itu menumbuhkan tekad untuk membawa perubahan.

“Saya perhatikan anak-anak di sini jarang membaca, dan akses buku sangat terbatas. Dari situ, saya mulai memikirkan solusi nyata,” tutur pria yang akrab disapa Mas Bhabin, Ahad, 25 Mei 2025.

Pada 2018, niat itu berubah menjadi aksi. Dari gaji pribadinya, ia membeli sebuah motor roda tiga yang kemudian dimodifikasi menjadi perpustakaan keliling. Buku-buku ia kumpulkan dari para donatur, komunitas, hingga relawan yang peduli pada pendidikan anak-anak perbatasan.

Di sela waktu tugas dan hari libur, Bripka Mudiyanto menyusuri desa-desa terpencil, melewati jalanan berbatu dengan membawa ratusan buku. Di setiap pemberhentian, ia tak sekadar menawarkan bacaan, melainkan juga membangkitkan harapan.

“Anak-anak Natuna juga harus punya mimpi besar. Tinggal di perbatasan bukan berarti mereka kalah bersaing. Wawasan mereka harus luas,” ujarnya penuh semangat.

Baginya, perpustakaan keliling bukan hanya bentuk pengabdian sosial, melainkan panggilan hati. Ia percaya buku memiliki kekuatan untuk membuka cakrawala berpikir anak-anak, bahkan di tengah pesatnya penetrasi teknologi.

“Teknologi penting, tapi buku tetap punya peran. Anak-anak perlu dikenalkan pada literasi sejak dini agar tumbuh dengan imajinasi dan nalar yang tajam,” katanya.

Kini, perpustakaan keliling Bripka Mudiyanto telah menjadi simbol harapan baru di Natuna. Di balik seragam dinasnya, ia adalah sosok pejuang literasi yang senyap namun berdampak besar, membakar semangat belajar dari batas negeri.