Batam, Kepulauan Riau 24 Januari 2026 — Aksi warga Tanjung Sengkuang Pada Hari Kamis Tanggal 22 Januari 2026 yang memprotes krisis air bersih merupakan sinyal serius atas ancaman terhadap keberlangsungan UMKM dan usaha pariwisata rakyat di Kota Batam. Krisis ini dinilai telah berdampak langsung pada denyut ekonomi masyarakat kecil yang menggantungkan hidup dari sektor jasa, kuliner, dan pariwisata berbasis lokal.

Hal tersebut disampaikan oleh Alex Manurung, Demisioner Koordinator BEM SI Kepri , yang menegaskan bahwa krisis air bersih tidak bisa lagi dipahami sebagai persoalan teknis distribusi semata, melainkan persoalan ekonomi struktural yang mengancam mata pencaharian rakyat.

“Krisis air bersih ini bukan hanya soal air tidak mengalir, tetapi soal usaha rakyat yang tidak bisa berjalan. UMKM dan pariwisata masyarakat sangat bergantung pada air sebagai faktor produksi utama,” tegas Alex Manurung.

Menurut Alex, pelaku UMKM, khususnya sektor kuliner, laundry, homestay, dan jasa harian, merupakan kelompok yang paling rentan terdampak ketika pasokan air tidak menentu. Ketika air langka, biaya operasional meningkat dan kualitas layanan menurun, sehingga daya saing usaha rakyat melemah.

“Saat air sulit didapat, UMKM dipaksa membeli air tambahan, mengurangi jam operasional, bahkan menutup usaha sementara. Ini bukan hanya menurunkan pendapatan, tetapi juga mengancam keberlanjutan usaha rakyat kecil,” ujarnya.

Alex juga menyoroti dampak krisis air bersih terhadap sektor pariwisata masyarakat, yang selama ini menjadi penggerak ekonomi lokal Batam. Menurutnya, keterbatasan air berpotensi menurunkan kualitas layanan penginapan rakyat, usaha kuliner, serta destinasi wisata berbasis komunitas.

“Pariwisata hidup dari pelayanan. Ketika air tidak tersedia, kenyamanan wisatawan terganggu, kepercayaan menurun, dan citra Batam sebagai kota jasa dan pariwisata ikut terdampak. Yang pertama kali terkena imbasnya adalah usaha masyarakat lokal,” jelas Alex.

Ia menilai krisis air bersih mencerminkan kegagalan negara dalam menjamin air sebagai public goods yang seharusnya dapat diakses secara adil oleh seluruh warga, terutama pelaku usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat.

“Adam Smith telah mengingatkan bahwa kemakmuran hanya mungkin tercapai jika faktor produksi tersedia. Ketika air tidak terjamin, pasar bekerja tidak adil dan justru menghukum pelaku usaha kecil,” katanya.

Lebih lanjut, Alex menegaskan bahwa negara tidak boleh bersembunyi di balik mekanisme pasar ketika kebutuhan dasar rakyat tidak terpenuhi.

“Seperti ditegaskan John Maynard Keynes, negara wajib hadir ketika pasar gagal menjamin kebutuhan dasar. Krisis air bersih ini menunjukkan adanya kegagalan kebijakan yang harus segera diperbaiki,” lanjutnya.

Alex Manurung menutup pernyataannya dengan peringatan keras kepada pemerintah dan pemangku kepentingan.

“Jika krisis air ini terus dibiarkan, Batam tidak hanya menghadapi krisis air bersih, tetapi juga krisis UMKM dan pariwisata rakyat. Ketika usaha rakyat tumbang, maka yang runtuh adalah ekonomi masyarakat secara keseluruhan,” pungkasnya.