Indonesia kembali dikejutkan dengan hasil survei literasiinternasional. Data Programme for International StudentAssessment (PISA) 2022 menempatkan kemampuan membaca siswa Indonesia di peringkat 71 dari 81 negara yang disurvei, dengan skor 359 jauh di bawah rata-rata OECD yang mencapai 476. Lebih mengkhawatirkan, data Badan Pusat Statistik (2021) menunjukkan hanya 3,66 persen masyarakat Indonesia yang memiliki minat baca tinggi.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah alarm keras yang menunjukkan bahwa generasi muda kita kesulitan memahami teks sederhana, apalagi menganalisisnya secara kritis. Lalu muncul pertanyaan mendasar: mengapa berbagai program literasi yang telah digalakkan sejak Gerakan LiterasiSekolah (GLS) diluncurkan pada 2016 belum membuahkan hasil maksimal?
Sebagai mahasiswa yang menggeluti bidang pendidikan bahasa, saya melihat salah satu akar masalahnya terletak pada pemahaman yang masih parsial tentang model-model pengembangan literasi. Survei Kemendikbud (2019) menunjukkan bahwa 68 persen sekolah telah menerapkan program literasi, namun hanya 32 persen yang melakukannya secara sistematis dan berkelanjutan. Banyak sekolah menerapkan program literasi secara seremonial tanpa memahami substansi, kelebihan, dan keterbatasan setiap model.
Linguistik: Fondasi yang Sering Terlupakan
Pengembangan literasi memerlukan landasan linguistik yang kuat. Literasi pada dasarnya adalah tentang bahasa, yakni kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak semuanya berpijak pada pemahaman terhadap struktur dan fungsi bahasa. Penelitian Effendi (2020) menunjukkan bahwa guru yang memiliki pemahaman linguistik yang baik mampu menghasilkan pembelajaran bahasa 40 persen lebih efektif.
Data Kemendikbud (2020) mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa 65 persen kesalahan pemahaman siswa dalam ujian nasional bersumber dari ketidakmampuan memahami soal, bukan ketidaktahuan materi. Tanpa dasar linguistik yang memadai, pengembangan literasi akan kehilangan arah.
Ragam Model Pengembangan Literasi: Bukan Soal Mana yang Terbaik
GLS memperkenalkan berbagai model pengembangan literasi seperti DEAR (Drop Everything and Read), ODOA-OMOB (One Day One Article-One Month One Book), JRW (Journal Reading and Writing), KOMBIS (Komunitas Membaca dan Menulis Siswa), dan RWW (Reading and WritingWorkshop). Pertanyaan yang sering muncul: model mana yang paling efektif?
DEAR menekankan pembiasaan membaca mandiri. Studi Sugiarsih (2018) di MI Kota Semarang menunjukkan penerapan DEAR meningkatkan minat baca siswa hingga 73 persen. Namun, tanpa kegiatan lanjutan seperti diskusi, bagaimana kita memastikan siswa tidak hanya membaca, tetapi juga memahami?
ODOA-OMOB menawarkan target terukur: satu artikel per hari dan satu buku per bulan. Data di SDN 1 Cianting, Purwakarta (2024) menunjukkan 82 persen siswa menyelesaikan target. Namun, penelitian Rusiana dkk (2023) mengungkapkan hanya 45 persen yang benar-benar memahami isi bacaan. Ini jebakan klasik: mengejar kuantitas tanpa memperhatikan kualitas.
Sementara itu, model SCONUL dengan tujuh pilarnya memberikan kerangka sistematis untuk literasi informasi. Di era digital ketika informasi berlimpah, kemampuan mengevaluasi sumber menjadi krusial. Penelitian Wahyuni (2020) menunjukkan siswa yang dilatih dengan model SCONUL memiliki kemampuan 3,5 kali lebih baik dalam mengenali berita hoaks.
Jalan Keluar: Pendekatan Integratif dan Kontekstual
Lalu, model mana yang paling efektif? Jawabannya mungkin mengecewakan: tidak ada satu model yang sempurna untuk semua konteks. Yang dibutuhkan adalah pendekatan integratif yang menggabungkan kelebihan berbagai model sesuai karakteristik siswa, kondisi sekolah, dan tujuan pembelajaran.
Mari berpikir kontekstual. Sekolah dengan perpustakaan terbatas (42 persen sekolah di Indonesia menurut data Kemendikbud 2021) mungkin lebih cocok memulai dengan DEAR dan KOMBIS. Sekolah dengan akses teknologi memadai bisa mengintegrasikan SCONUL untuk literasi digital.
Yang terpenting, setiap model harus didukung tiga pilar fundamental: pemahaman linguistik yang kuat dari pendidik, lingkungan literat yang kondusif, dan komitmen konsisten dari seluruh komunitas sekolah. Penelitian Kurniawan (2019) memberikan bukti empiris: sekolah yang mengintegrasikan ketiga pilar ini mengalami peningkatan literasi 2,7 kali lebih tinggi.
Bukankah sudah saatnya kita berhenti mencari “model ajaib” dan mulai fokus pada implementasi bermakna? Program literasi yang sukses bukan tentang memilih satu model terbaik, tetapi tentang memahami berbagai pilihan, lalu mengadaptasinya secara kreatif sesuai konteks lokal.
Tanggung Jawab Kolektif
Mengatasi krisis literasi adalah tanggung jawab kolektif. Data UNESCO memberikan bukti kuat: anak dengan orang tua yang rutin membaca memiliki kemampuan literasi 4 kali lebih baik. Bank Dunia (2020) memperkirakan rendahnya literasiIndonesia berpotensi menurunkan produktivitas ekonomi hingga 30 persen pada 2045.
Data PISA yang menempatkan kita di posisi 71 dari 81 negara bukan vonis mati, melainkan titik balik untuk berbenah. Sudah saatnya kita bergerak dari program literasi seremonial menuju implementasi substantif, dari pendekatan seragam menuju strategi kontekstual.
Dengan pemahaman tepat tentang fondasi linguistik dan model-model literasi, kita bisa memulai transformasi nyata mulai sekarang. Satu sekolah, satu kelas, satu siswa pada satu waktu. Karena literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi tentang membangun manusia pembelajar yang kritis, adaptif, dan berkarakter untuk Indonesia yang lebih baik.
Pertanyaan terakhir yang perlu kita renungkan: jika bukan kita yang memulai perubahan ini, lalu siapa? Jika bukan sekarang, kapan lagi?





Tinggalkan Balasan