Tanjungpinang – Menjelang akhir tahun, Kota Tanjungpinang kembali dihantam persoalan pasokan pangan. Stok daging beku menipis drastis di hampir seluruh pasar.

Pedagang kebingungan, sementara warga mengeluhkan keterbatasan pilihan karena daging beku selama ini menjadi alternatif yang lebih terjangkau.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kota Tanjungpinang, Robert Lukman, menegaskan kelangkaan ini bukan akibat lonjakan permintaan.

Menurut dia, pasokan tersendat karena regulasi baru yang memperketat izin pemasukan barang, terutama dari Batam.

“Sekarang pengawasannya sangat ketat. Daging beku hampir tidak ada karena tidak lagi bisa masuk dengan mudah. Banyak persyaratan baru yang harus dipenuhi para importir,” kata Robert, Kamis, 11 Desember 2025.

Robert menjelaskan distribusi daging beku dari Batam jalur utama pasokan selama ini melambat akibat aturan baru tersebut. Stok pun tidak dapat diperbarui, membuat pedagang hanya mengandalkan sisa pasokan yang kian menipis dan bahkan habis di beberapa lokasi.

Situasi serupa, kata dia, juga terjadi pada sejumlah bahan pokok lain. Serangkaian regulasi baru membuat arus barang ke Tanjungpinang terhambat.

“Barang-barang kebutuhan pokok yang biasanya datang dari Batam sekarang terhambat. Keterlambatan inilah yang membuat pedagang bingung,” ujar Robert.

Dalam rapat koordinasi dengan Bea Cukai, karantina, dan distributor, pemerintah daerah membahas berbagai opsi penanganan.

Salah satu yang mengemuka adalah pengajuan kuota tambahan serta diskresi agar barang kebutuhan pokok termasuk daging beku bisa masuk langsung ke Tanjungpinang tanpa melalui Batam yang jalur distribusinya lebih panjang.

“Pemerintah daerah akan mengajukan diskresi, baik untuk penambahan kuota maupun izin pemasukan langsung dari luar, seperti Singapura atau Malaysia. Langkah ini untuk memangkas jalur distribusi dan menekan harga,” tutur Robert.

Meski stok daging beku menipis, Robert memastikan ketersediaan daging segar lokal masih aman. Pasokan sapi dari peternak di Kasta dan Pak Tamrin mencapai 50 hingga 70 ekor, cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga perayaan Tahun Baru.

“Harganya juga stabil, sekitar Rp150.000 per kilogram,” ucapnya.

Konsumen pun masih bisa beralih ke daging segar karena selisih harganya tidak terpaut jauh dari daging beku yang sebelumnya dijual sekitar Rp120.000.

Robert menambahkan ada potensi gangguan pasokan ayam menjelang Natal dan Tahun Baru. Perbedaan harga antar pedagang di pasar, yang berkisar Rp1.000 hingga Rp3.000, disebutnya sebagai fenomena musiman setiap akhir tahun.

“Kita akan meningkatkan kerja sama dengan Bintan agar pasokan ayam tetap stabil ke Tanjungpinang,” katanya.

(kev)