Tanjungpinang – Aksi dua remaja yang diduga hendak percobaan mencuri mesin air di Surau Nurul Ulum, Dompak, viral di media sosial. Keduanya kepergok warga saat beraksi pada malam hari dan sempat diamankan sebelum akhirnya dibawa ke kantor polisi.
Aksi itu terjadi di Surau Nurul Ulum, Tanjung Siambang, Kecamatan Bukit Bestari, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Selasa (7/4/2026) sekitar pukul 20.00 WIB.
Kanit Reskrim Polsek Bukit Bestari, Ipda Juara Limbong, membenarkan kejadian tersebut.
Ia menyebut kedua pelaku masih berusia di bawah umur, masing-masing berinisial C dan I yang sama-sama berusia 15 tahun.
“Iya benar, dua remaja itu 15 tahun. Mereka sempat dibawa ke Polsek, tapi sudah diselesaikan secara kekeluargaan karena baru percobaan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (8/4/2026).
Menurut Limbong, kedua remaja itu belum sempat membawa mesin air dan baru membuka baut pada bagian mesin saat aksinya dipergoki warga.
Dari hasil pemeriksaan, keduanya mengaku nekat melakukan aksi tersebut untuk mencari uang.
“Mereka bilang untuk cari uang minyak setelah nonton balap,” kata Limbong.
Ia juga mengungkapkan, salah satu pelaku sebelumnya diduga pernah mengambil dan menjual mesin air milik orang tuanya sendiri.
Hal itu diketahui setelah polisi memeriksa isi percakapan di ponsel pelaku.
“Kami cek dari WhatsApp-nya, ada percakapan jual mesin air. Setelah dikonfirmasi, ternyata memang milik orang tuanya,” ujarnya.
Kedua remaja tersebut diketahui bukan warga sekitar lokasi kejadian dan disebut berasal dari wilayah Kawal.
Sementara itu, Ketua Surau Nurul Ulum, Suprizal, mengatakan aksi tersebut pertama kali diketahui oleh seorang warga bernama Amrin yang melintas di lokasi.
“Dilihatnya mereka sedang mengotak atik mesin air, lalu ditegur. Awalnya mereka beralasan ingin isi paket internet, tapi kemudian mengaku mau ambil mesin air,” ujarnya.
Setelah itu, Amrin memanggil warga lain hingga kedua remaja tersebut diamankan di lokasi sebelum dilaporkan ke pihak kepolisian.
Suprizal menyebut, kedua remaja itu sempat membawa sejumlah peralatan yang diduga digunakan untuk melakukan aksi pencurian.
“Di dalam jok motor ada obeng, pisau, gunting, kabel-kabel,” katanya.
Ia juga mengungkapkan, aksi pencurian di lingkungan surau bukan kali pertama terjadi.
Dalam beberapa tahun terakhir, kotak amal disebut sudah berulang kali hilang.
“Sudah sekitar 15 kali kotak amal hilang. Kalau dibuka seminggu sekali, bisa Rp200 ribu sampai Rp300 ribu,” ujarnya.
Menurutnya, kehilangan tersebut terjadi dalam waktu yang tidak menentu, mulai dari malam, subuh, hingga siang hari. Minimnya fasilitas pengawasan seperti kamera CCTV menjadi kendala dalam mengungkap pelaku.
“Tidak ada CCTV di sini, jadi sulit mengetahui pelakunya,” katanya.
Meski sempat diamankan warga, kedua remaja tersebut tidak mengalami tindakan kekerasan serius dan langsung diserahkan ke pihak kepolisian.
Atas permintaan pengurus surau, kasus tersebut akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan dengan catatan kedua orang tua pelaku dipanggil dan diminta lebih mengawasi anaknya.
“Kami sampaikan ke orang tuanya agar anaknya lebih diperhatikan, jangan sampai lepas kendali,” ujar Limbong.
Pihak kepolisian juga mengimbau para orang tua untuk lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, terutama yang masih remaja, agar tidak terjerumus dalam tindakan melanggar hukum.
(kev)



Tinggalkan Balasan