Ulasfakta – Seorang pria asal China berinisial CS diduga melakukan penganiayaan terhadap seorang perempuan warga lokal berinisial IRS di Batam, Kepulauan Riau. Kasus ini sempat memicu gelombang protes di Kantor Imigrasi Batam, namun hingga kini pelaku masih bebas beraktivitas dan bekerja secara legal di Indonesia.

Korban mengalami trauma berat dan belum bisa menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa. Ketakutan yang terus menghantui semakin besar karena pelaku masih tinggal di Batam dan menjalankan pekerjaannya seolah tak terjadi masalah.

“Dia tidak berani keluar rumah karena takut, terutama karena pelaku belum juga diproses hukum,” ujar Butong, keluarga korban, Sabtu, 10 Mei 2025.

Meski sebelumnya beredar kabar bahwa CS sudah dideportasi, kenyataannya berbeda. Keluarga korban mendapatkan informasi bahwa CS masih menetap di Batam dan bekerja dengan menggunakan Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS).

“Kami sangat kecewa. Dulu sempat diberitakan izin tinggalnya dicabut dan akan dideportasi, tetapi sekarang dia masih bebas bekerja di sini,” kata Butong.

Keluarga korban menuntut kejelasan terkait dasar hukum pembatalan proses deportasi tersebut. Mereka mempertanyakan apakah Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) sudah cukup untuk membiarkan seseorang yang diduga melakukan kekerasan tetap tinggal dan bekerja di Indonesia.

“Kami minta penjelasan yang transparan dan jujur. Jangan sampai Indonesia menjadi tempat aman bagi pelaku kekerasan dari luar negeri,” tegas Butong.

Kemarahan keluarga memuncak hingga berujung pada demonstrasi di kantor imigrasi, menuntut agar pihak berwenang segera mengambil tindakan tegas dan profesional.

Di sisi lain, Kepala Seksi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian Imigrasi Kelas I Khusus TPI Batam, Kharisma Rukmana, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan pemeriksaan dokumen CS dan tidak menemukan pelanggaran keimigrasian.

“Kami sudah melakukan mediasi dengan perwakilan pengunjuk rasa. Tidak ditemukan pelanggaran keimigrasian karena kasus ini sudah ditutup dengan SP3. Pemeriksaan juga sudah dilakukan secara menyeluruh,” jelas Kharisma.