Tanjungpinang — Lonjakan tagihan air bersih yang dikeluhkan sejumlah warga Tanjungpinang kembali menjadi sorotan. DPRD Provinsi Kepulauan Riau mendesak PDAM Tirta Kepri segera melakukan evaluasi menyeluruh dan turun langsung ke lapangan untuk mengusut penyebab kenaikan yang dinilai tidak wajar.
Sekretaris Komisi II DPRD Kepri, Wahyu Wahyudin, mengatakan pihaknya menerima laporan adanya keluhan warga terkait tagihan air yang melonjak meski penggunaan dinilai tidak mengalami peningkatan signifikan.
Ia menyebut, terdapat indikasi teknis yang diduga memengaruhi perputaran meteran air sehingga pembacaan pemakaian menjadi tidak sesuai kondisi sebenarnya.
“Di Tanjungpinang ada warga yang mengeluhkan tagihan air melonjak banyak padahal pemakaian air gak normal, jadi tidak banyak pemakaian,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (7/4/2026).
Menurutnya, terdapat kondisi di lapangan di mana meteran air berputar lebih cepat meski penggunaan air relatif rendah, sehingga menimbulkan dugaan adanya faktor lain di luar pemakaian normal.
“Meteran berputar cepat, sehingga seolah-olah banyak pemakaian,” katanya.
Wahyu menambahkan, secara analisa awal terdapat kemungkinan adanya udara dalam sistem pipa yang dapat memengaruhi putaran meteran air.
“Itu kalau dianalisa kemungkinan ada angin dari pipa yang menggerakkan meteran sehingga perputaran air. Angin tersebut bisa jadi dari turbin awal pengaliran air atau saat kondisi air sedang surut,” jelasnya.
Atas kondisi tersebut, ia menegaskan PDAM Tirta Kepri diminta segera melakukan evaluasi serta turun langsung ke rumah warga untuk memastikan penyebab pasti di lapangan.
“Jadi saya minta PDAM mengevaluasi dan turun ke rumah warga tersebut apa penyebab pastinya,” tegasnya.
Sementara itu, sebelumnya keluhan warga terkait lonjakan tagihan air ini telah ramai diperbincangkan di media sosial setelah muncul unggahan dari komunitas lokal.
Dalam unggahan tersebut, sejumlah warga mengaku mengalami kenaikan tagihan yang signifikan dan tidak sesuai dengan pola pemakaian harian.
Sejumlah laporan menyebut tagihan air bahkan melonjak hingga ratusan ribu rupiah dibanding bulan sebelumnya, meski penggunaan tidak mengalami perubahan berarti.
Salah satu warga menyebut tagihan airnya pada bulan Maret mencapai Rp760 ribu, padahal biasanya hanya berkisar sekitar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per bulan.
“Pemakaian di rumah kami biasa saja, pagi dan sore. Kalau bak dan ember sudah terisi, langsung kami matikan. Biasanya sekitar pukul 18.00 sudah kami hentikan pemakaian dan tidak digunakan lagi,” ungkapnya.
Gelombang keluhan juga terus bermunculan di kolom komentar media sosial, bahkan sebagian warga mengaku tagihan mereka naik hingga jutaan rupiah.
Kondisi ini memicu keresahan publik dan menimbulkan pertanyaan terkait akurasi pencatatan meteran serta transparansi perhitungan tagihan oleh pihak terkait.
Warga berharap PDAM Tirta Kepri segera memberikan penjelasan terbuka sekaligus solusi konkret agar persoalan serupa tidak terus berulang.
Selain itu, masyarakat juga meminta adanya mekanisme pengaduan yang cepat, jelas, dan responsif agar setiap keluhan dapat ditindaklanjuti tanpa berlarut-larut.



Tinggalkan Balasan