Tanjungpinang – Pemadaman listrik berkepanjangan membuat omzet usaha laundry koin di Tanjungpinang merosot tajam. Dari kondisi normal yang bisa mencapai Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per hari, keuntungan yang diperoleh saat pemadaman bahkan tak sampai Rp400 ribu akibat waktu operasional terpangkas dan antrean cucian menumpuk.
Gangguan listrik tersebut dirasakan pemilik usaha Klinoz Laundry Koin di Jalan Hanjoyo Putro, Kilometer 8 Atas, Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Selasa (13/10/2026).
Pemilik Klinoz Laundry Koin, Budi, mengatakan pemadaman membuat aktivitas usaha terganggu karena operasional laundry sangat bergantung pada pasokan listrik. Dalam kondisi normal, usahanya beroperasi mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WIB.
“Sangat merugikan banget karena kita operasional dari setengah delapan pagi sampai jam 10, bahkan sampai jam 12 malam. Dengan dampak seperti ini, kerugian material terasa banget karena ada potensi kehilangan omzet bisnis per hari minimal Rp1,5 juta,” ujar Budi.
Menurut dia, pemadaman juga membuat cucian pelanggan menumpuk. Ketika listrik kembali menyala, pelanggan langsung berdatangan sehingga antrean meningkat hingga tiga kali lipat dari kondisi normal.
“Semakin banyak, karena menimbulkan antrean. Antrean yang sudah enggak normal lagi. Seharusnya alurnya lancar, ini malah terbendung. Begitu lampu hidup, langsung datang pelanggan,” katanya.
Budi menjelaskan listrik di lokasi usahanya padam sejak sekitar pukul 06.00 WIB dan baru kembali menyala sekitar pukul 18.00 WIB. Namun, tegangan listrik saat itu masih rendah sehingga ia harus menunggu sekitar dua jam sebelum peralatan laundry dapat digunakan.
“Artinya 14 jam mati, baru jam delapan malam kami bisa mengerjakan sampai jam 01.00 malam,” tuturnya.
Akibatnya, waktu untuk menyelesaikan cucian pelanggan menjadi jauh lebih singkat. Budi mengaku terpaksa melanjutkan pekerjaan hingga pukul 01.00 WIB untuk mengejar antrean yang menumpuk.
Dalam kondisi normal, omzet usahanya berkisar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta sehari. Namun, saat pemadaman terjadi, keuntungan yang diperoleh bahkan tidak mencapai Rp400 ribu.
“Semalam saja keuntungan kami enggak sampai Rp400 ribu. Kami banyak kehilangan omzet karena waktu kerja yang seharusnya panjang menjadi sangat singkat,” ujarnya.
Budi mengatakan penggunaan generator set (genset) belum menjadi pilihan karena kebutuhan daya peralatan laundry cukup besar. Menurut dia, penggunaan genset berikut biaya bahan bakar dinilai tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.
“Tidak, karena genset kan besar watt-nya harus di atas 8 ribu, paling tidak 10 ribu. Otomatis kalau kita pakai genset enggak nutup, apalagi kebutuhan BBM,” katanya.
Budi juga menyoroti belum adanya kompensasi yang dirasakan masyarakat ketika terjadi pemadaman berkepanjangan. Ia menilai kondisi tersebut merugikan pelanggan dan pelaku usaha yang tetap memenuhi kewajiban membayar tagihan listrik.
“Kalau kita telat bayar, kita yang dihukum mereka. Sementara kalau listrik mati, kompensasi untuk masyarakat enggak ada. Paling hanya permintaan maaf, itu enggak cukup,” ujarnya.
Ia berharap PT PLN (Persero), khususnya UP3 Tanjungpinang, dapat mencari solusi agar pasokan listrik lebih stabil dan tidak terus bergantung pada pasokan dari Batam.
“Harapannya stabil. Artinya, PLN Tanjungpinang itu harus punya solusi yang cerdas, ada kemandirian listrik, jangan cuma bergantung ke Batam,” pungkasnya.
(Kev)




Tinggalkan Balasan