Tanjungpinang – Kabut asap pekat kembali menyelimuti wilayah Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Rabu 7 Oktober 2026. Kondisi tersebut terpantau dari citra satelit pada pukul 10.00 WIB.

Fenomena ini berdampak pada penurunan jarak pandang secara signifikan hingga memburuknya kualitas udara di kawasan tersebut.

Prakirawan BMKG Tanjungpinang, Rizqi Nur Fitriani, mengatakan tidak ditemukan titik panas di sekitar Pulau Bintan berdasarkan pemantauan hingga pukul 11.24 WIB.

“Berdasarkan hasil pemantauan data hotspot terkini pada 07 Oktober 2026 pukul 11.24 WIB, tidak teridentifikasi adanya titik panas di sekitar wilayah Pulau Bintan,” kata Fitriani saat diwawancarai Ulasfakta, Rabu (7/10/2026).

Meski tidak ditemukan titik panas, lanjut Fitriani, citra satelit Himawari pada pukul 10.00 WIB menunjukkan Pulau Bintan terdampak kiriman kabut asap dari Sumatera dan Kalimantan.

Angin yang dominan bertiup dari arah tenggara hingga selatan di sekitar Pulau Bintan turut memengaruhi pergerakan massa udara dan partikel asap karhutla dari wilayah sumber menuju Bintan dan sekitarnya.

Sementara itu, kondisi kualitas udara di Kepulauan Riau juga menjadi perhatian. Data pemantauan PM2.5 yang tersedia di Batam menunjukkan kualitas udara masuk kategori tidak sehat sejak sekitar pukul 10.00 WIB.

Konsentrasi PM2.5 tertinggi mencapai 103,3 µg/m³ pada pukul tersebut. Kondisi itu, kata Fitriani, perlu diwaspadai, terutama apabila aktivitas kebakaran hutan dan lahan di wilayah luar Pulau Bintan meningkat dan asapnya terbawa menuju wilayah sekitar.

“Data tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara di wilayah Kepulauan Riau perlu menjadi perhatian, khususnya apabila terjadi peningkatan aktivitas kebakaran hutan dan lahan di wilayah luar Pulau Bintan yang dapat memengaruhi kualitas udara melalui sebaran kabut asap,” ujarnya.

Di Tanjungpinang, jarak pandang mendatar terpantau berada pada kisaran 1-3 kilometer berdasarkan hasil pengamatan alat observasi di Stasiun Meteorologi Kelas II Raja Haji Fisabilillah yang berada di Bandara Raja Haji Fisabilillah.

Menurut Fitriani, penurunan jarak pandang tersebut berkaitan dengan keberadaan kabut asap dan perlu mendapat perhatian terhadap keselamatan serta kelancaran operasional penerbangan. Jarak pandang yang turun hingga kurang dari 5 kilometer dapat memengaruhi operasional di bandar udara.

Untuk beberapa hari ke depan, cuaca di Pulau Bintan diprakirakan masih didominasi cerah berawan hingga berawan. Namun, potensi curah hujan diprakirakan meningkat pada 9-11 Oktober 2026 dengan sifat lokal atau tidak merata akibat pengaruh aktivitas Gelombang Ekuator di sekitar wilayah Pulau Bintan.

“Berdasarkan periode menuju awal dasarian II Oktober 2026 juga diprediksi masih terdapat potensi terjadinya hujan yang bersifat lokal, terutama pada siang hingga sore hari,” ujar Fitriani.

Potensi hujan lokal tersebut diprakirakan dapat membantu mengurangi kabut asap, meski sebarannya tidak merata.

Fitriani mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan serta dampak kiriman asap dari Sumatera, Kalimantan dan wilayah sekitarnya.

Masyarakat juga diminta memperhatikan perubahan cuaca yang dapat terjadi dengan cepat, terutama saat beraktivitas di luar ruangan maupun di wilayah perairan.

Selain itu, masyarakat diimbau memantau perkembangan kualitas udara sebelum beraktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker yang sesuai sebagai langkah perlindungan terhadap dampak penurunan kualitas udara.

(Kev)