Ulasfakta – Kualitas layanan kesehatan di RSUD Natuna menjadi sorotan setelah seorang pasien penyakit jantung, Rasidi (56), tidak mendapatkan pelayanan medis sesuai jadwal kontrolnya di Poli Penyakit Dalam.

Senin (3/3), Rasidi datang ke RSUD Natuna bersama keluarganya untuk menjalani kontrol rutin yang telah ditetapkan dokter. Namun, alih-alih mendapat pemeriksaan, ia justru ditolak dengan alasan dokter yang bertugas harus menghadiri pertemuan bersama Bupati Natuna.

Kecewa dengan penolakan tersebut, keluarga Rasidi pun terpaksa pulang tanpa mendapatkan layanan kesehatan yang seharusnya menjadi hak pasien.

“Saya datang sesuai jadwal yang diberikan dokter, tetapi malah ditolak. Ini tentu membuat saya bertanya-tanya tentang kualitas pelayanan kesehatan di RSUD Natuna,” ujar Rasidi.

RSUD Natuna Sesalkan Kejadian Ini

Menanggapi insiden ini, Subbag Umum, Perlengkapan, dan Humas RSUD Natuna, Harpen Suryadi, mengaku pihak manajemen sama sekali tidak mengetahui adanya keputusan sepihak dari dokter untuk menutup pelayanan Poli Penyakit Dalam hari itu.

“Kami menyesalkan kejadian ini. Manajemen tidak mengetahui adanya inisiatif dari dokter untuk menghentikan pelayanan,” kata Harpen, Selasa (4/3).

Ia menegaskan bahwa pihak RSUD Natuna akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pelayanan guna memastikan kejadian serupa tidak terulang.

“Saya bersama Pak Direktur akan mengevaluasi prosedur penerimaan pasien serta meninjau kembali kebijakan pelayanan. Kami ingin memastikan bahwa tidak ada lagi pasien yang mengalami kendala serupa,” lanjutnya.

Permohonan Maaf dan Komitmen Perbaikan

Harpen juga menyampaikan permohonan maaf kepada Rasidi dan masyarakat Natuna atas kejadian yang mencoreng citra pelayanan RSUD.

“Atas nama manajemen RSUD Natuna, kami meminta maaf kepada pasien dan masyarakat. Kami menyadari bahwa insiden ini berdampak buruk pada kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan di rumah sakit kami,” tutup Harpen.

Ke depan, RSUD Natuna berjanji akan meningkatkan pengawasan serta memastikan bahwa pelayanan kesehatan tetap menjadi prioritas utama, tanpa terkecuali.