Padang – Kopi yang selama ini tumbuh dan dipanen petani di dataran tinggi Solok kini semakin dekat dengan masyarakat Kota Padang. Koperasi Solok Radjo resmi memperluas jangkauan pemasarannya melalui kehadiran Solok Radjo House di Jalan Bagindo Aziz Chan, tepat di samping Kantor Pos Padang.

Gerai kedelapan yang menggelar soft opening pada Minggu (1/11/2026) tersebut bukan sekadar menghadirkan tempat baru untuk menikmati kopi. Lebih dari itu, Solok Radjo House membawa misi memperkenalkan kualitas kopi lokal sekaligus membuka ruang pemasaran yang lebih luas bagi hasil perkebunan petani Sumatera Barat.

Mengusung konsep rumah yang hangat dan nyaman, tempat ini dirancang sebagai ruang pertemuan berbagai kalangan. Mulai dari petani kopi, pelaku usaha, komunitas, hingga masyarakat umum dapat berkumpul sambil menikmati cita rasa kopi lokal.

Ketua Koperasi Solok Radjo, Joni Sandika Putra, mengatakan kehadiran gerai tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang koperasi dalam membangun ekosistem usaha kopi yang melibatkan petani lokal.

“Motivasi kita sebenarnya sederhana. Kita ingin menghadirkan kopi-kopi yang ditanam oleh para petani, orang tua kami, agar bisa dinikmati masyarakat yang lebih luas,” ujar Joni.

Menurutnya, Solok Radjo telah memulai perjalanan usaha sejak 2012. Pada tahap awal, koperasi lebih banyak bergerak sebagai produsen sekaligus eksportir kopi. Namun, dalam tiga hingga empat tahun terakhir, mereka mulai memperkuat pemasaran langsung melalui pengembangan kedai kopi sendiri.

Langkah tersebut menjadi strategi untuk memperpendek jarak antara hasil perkebunan petani dengan konsumen.

Kini, Solok Radjo telah memiliki delapan gerai yang tersebar di Kabupaten Solok, Kabupaten Limapuluh Kota, Bandara Internasional Minangkabau, dan Kota Padang.

Meski mulai mengembangkan jaringan kedai sendiri, aktivitas ekspor tetap berjalan. Namun, volumenya mengalami penyesuaian karena sebagian hasil produksi kini diserap untuk memenuhi kebutuhan gerai.

Salah satu identitas utama Solok Radjo House adalah komitmennya menghadirkan 100 persen biji kopi Arabika yang berasal dari dataran tinggi Solok.

Pengunjung tidak hanya diajak menikmati secangkir kopi, tetapi juga mengenal karakter dan kualitas kopi yang dihasilkan petani Sumatera Barat.

Menu kopi filter menjadi salah satu pilihan andalan. Disajikan tanpa tambahan gula maupun susu, metode ini memungkinkan penikmat kopi merasakan karakter asli biji kopi secara lebih utuh.

Selain aneka minuman kopi, tersedia pula makanan ringan bercita rasa lokal, seperti pisang goreng dan berbagai kudapan tradisional. Pengelola juga tengah mempersiapkan menu makanan berat yang direncanakan mulai tersedia satu hingga dua minggu setelah pembukaan.

Joni mengatakan, pihaknya ingin membangun pengalaman berbeda bagi setiap orang yang datang. Solok Radjo House tidak ingin sekadar menjadi tempat transaksi, melainkan ruang yang menghadirkan suasana kekeluargaan.

“Kami ingin menjadikan setiap orang yang datang itu bukan sebagai customer, tetapi sebagai tamu yang datang ke rumah,” katanya.

Konsep tersebut diterjemahkan melalui penyediaan berbagai fasilitas untuk menunjang kenyamanan pengunjung.

Solok Radjo House memiliki area indoor dan outdoor, ruang privat untuk pertemuan maupun kegiatan perusahaan, musala, serta akses Wi-Fi.

Menariknya, pengunjung juga dapat mengenal proses pengolahan kopi melalui fasilitas edukasi roasting atau sangrai kopi. Dengan demikian, pengalaman menikmati kopi dapat dilengkapi dengan pengetahuan mengenai proses di balik secangkir minuman yang disajikan.

Pengelola bahkan merencanakan kehadiran alat musik tradisional Minangkabau, seperti talempong dan bansi, yang dapat dimainkan langsung oleh pengunjung.

Konsep ini bukan untuk menghadirkan pertunjukan musik reguler, melainkan memberikan kesempatan kepada tamu untuk berinteraksi sekaligus mengenal kekayaan budaya lokal.

Solok Radjo House juga membuka ruang bagi keluarga, komunitas, dan pelaku usaha yang ingin menggelar pertemuan dalam suasana lebih santai.

Gerai ini beroperasi setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 22.00 WIB. Berbagai pilihan menu sarapan turut disiapkan untuk melayani pengunjung sejak pagi hari.

Joni berharap kehadiran Solok Radjo House di Kota Padang dapat menjadi salah satu pintu untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap produk perkebunan lokal.

Menurutnya, kopi hasil perkebunan petani Sumatera Barat memiliki potensi besar untuk bersaing dan mendapatkan tempat di tengah berkembangnya industri kopi.

“Kita ingin tempat ini menjadi ruang berkumpul berbagai kalangan, mulai dari petani, pengusaha hingga masyarakat umum. Harapannya, kita semakin sadar bahwa produk lokal juga tidak kalah dengan produk-produk luar,” tuturnya.

Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah, terutama dalam memfasilitasi berbagai kebutuhan perizinan usaha.

Kehadiran gerai kedelapan ini menjadi bagian dari upaya Solok Radjo membangun usaha kopi yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan bisnis, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi petani dan perekonomian daerah.

Dari perkebunan di dataran tinggi Solok hingga meja penyajian di Kota Padang, Solok Radjo House ingin membuktikan bahwa kopi lokal Sumatera Barat memiliki potensi besar untuk dikenal lebih luas.

Sebab, di balik setiap cangkir kopi yang disajikan, terdapat hasil kerja petani lokal yang layak mendapatkan apresiasi dan pasar yang lebih besar. (Amryan)