Ulasfakta – Warga Desa Sededap dan Desa Teluk Labuh di Kecamatan Pulau Tiga, Kabupaten Natuna, masih belum bisa menikmati listrik penuh selama 24 jam. Hingga kini, suplai listrik dari PLN hanya berjalan selama 14 jam per hari, mulai pukul 16.00 hingga 06.00 WIB.
Terbatasnya pasokan listrik ini menghambat aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat, terutama bagi pelaku usaha kecil, tenaga pendidik, serta pegawai kantor yang sangat bergantung pada listrik untuk menjalankan pekerjaan mereka.
Camat Pulau Tiga, Wan Efendi, mengungkapkan bahwa suplai listrik ke desa tersebut pertama kali masuk pada tahun 2020, tetapi hanya tersedia satu mesin pembangkit. Kondisi ini berbeda dengan empat desa lainnya, yakni Sabang Mawang, Sabang Mawang Barat, Serantas, dan Tanjung Batang, yang mendapat pasokan listrik dari PLN melalui jalur laut.
“Kami berharap Pemerintah Kabupaten Natuna bisa memperjuangkan pasokan listrik 24 jam untuk Desa Sededap dan Teluk Labuh. Ini sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi di Pulau Tiga,” ujar Wan Efendi, Kamis (6/3/2025).
Dampak Ekonomi: Usaha Kecil Kesulitan, Produktivitas Terbatas
Terbatasnya listrik tidak hanya menyulitkan kehidupan sehari-hari, tetapi juga berdampak besar pada perekonomian masyarakat.
Awian, warga Desa Sededap yang memiliki usaha kecil-kecilan, mengaku kesulitan karena listrik tidak menyala sepanjang hari.
“Kami sangat bergantung pada listrik. Banyak warga yang memiliki usaha kecil, seperti menjual es, menyimpan hasil laut, atau menjalankan warung makan. Kalau listrik hanya menyala malam hari, tentu kami kesulitan,” keluhnya.
Warga juga menyoroti bahwa keterbatasan listrik menghambat penggunaan perangkat elektronik, internet, serta layanan administrasi desa. Para pelajar dan guru pun ikut terdampak karena sulit mengakses materi pelajaran digital di siang hari.
Solusi: Perlu Komitmen Pemerintah untuk Pemenuhan Listrik
Masyarakat berharap Pemkab Natuna segera mengambil langkah nyata untuk meningkatkan kapasitas pembangkit listrik atau menghubungkan suplai ke sumber daya yang lebih besar.
Selain itu, ada usulan agar energi alternatif seperti solar panel atau pembangkit listrik tenaga hybrid mulai diterapkan untuk mendukung ketersediaan listrik yang lebih stabil di daerah terpencil seperti Pulau Tiga.
“Kami hanya ingin hidup yang lebih layak, agar bisa bekerja dan berusaha tanpa hambatan listrik. Semoga pemerintah bisa segera mencarikan solusi untuk kami,” tutup Awian.



Tinggalkan Balasan