Tanjungpinang – Perkumpulan Mahasiswa Nias (PERMAS) Kota Tanjungpinang menggelar lomba public speaking dan penulisan opini untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda. Kegiatan tersebut bertujuan memperkuat persatuan sekaligus meningkatkan kemampuan mahasiswa menghadapi hoaks dan provokasi bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di media sosial.
Mengusung tema “Beda Suku, Satu Indonesia: Menjaga Persatuan di Media Sosial”, kompetisi ini menjadi wadah bagi mahasiswa Nias untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, menyampaikan gagasan, serta membangun komunikasi yang bertanggung jawab di ruang digital.
Ketua Umum PERMAS Kota Tanjungpinang, Lesna Willy Helmi Laila, mengatakan mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penonton di tengah berbagai persoalan sosial. Menurutnya, generasi muda harus mampu menganalisis persoalan sekaligus menawarkan solusi yang objektif.
“Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan agar mahasiswa Nias tidak sekadar menjadi penonton atas fenomena sosial, tetapi mampu menganalisis masalah dan menawarkan solusi objektif,” ujar Lesna.
Ia menjelaskan, kemampuan berbicara di depan umum dan menulis opini merupakan dua keterampilan yang saling melengkapi dalam membangun argumentasi sehat sekaligus menghargai perbedaan pendapat.
Melalui kompetisi tersebut, PERMAS berupaya membentuk karakter kepemimpinan serta meningkatkan kepekaan sosial para anggotanya terhadap berbagai persoalan masyarakat.
Lesna menegaskan, momentum Sumpah Pemuda harus dimaknai melalui kontribusi nyata dalam menjaga persatuan bangsa, termasuk membangun komunikasi yang bertanggung jawab di media sosial.
“Kami berkomitmen agar kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial belaka, melainkan menjadi program berkelanjutan,” tegasnya.
Ia berharap PERMAS terus memperluas kolaborasi untuk melahirkan generasi mahasiswa Nias yang memiliki kecerdasan intelektual, integritas, serta kepedulian terhadap keberagaman.
Sementara itu, Pembina PERMAS Kota Tanjungpinang, Desman Pasrah Jaya Hia, mengapresiasi inisiatif mahasiswa dalam menyelenggarakan kegiatan yang berorientasi pada pengembangan kemampuan intelektual.
Menurutnya, kompetisi tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk meningkatkan kepercayaan diri sekaligus melatih kemampuan menyampaikan gagasan secara terstruktur di hadapan publik.
“Kami selaku orang tua dan pembina sangat mengapresiasi kegiatan positif ini. Lomba public speaking dan penulisan opini ini memberikan ruang sekaligus kesempatan yang berharga bagi anak-anak kami untuk menguji kemampuan diri,” ujar Desman.
Ia mengingatkan, semangat Sumpah Pemuda tidak cukup hanya diperingati melalui kegiatan seremonial, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Desman juga mendorong mahasiswa Nias untuk terus meningkatkan kapasitas diri melalui pendidikan, organisasi, dan karya positif agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
“Teruskan perjuangan para pahlawan melalui proses belajar yang konsisten, aktif berorganisasi, dan melahirkan karya-karya positif,” katanya.
Di sisi lain, mantan Ketua Umum PERMAS Kota Tanjungpinang periode 2024/2025, Ide Jaya Waruwu, menyoroti tantangan generasi muda dalam menjaga persatuan di tengah perkembangan teknologi informasi.
Menurut Ide, mahasiswa Nias yang hidup di perantauan memiliki pengalaman langsung dalam menghadapi keberagaman. Namun, perkembangan media sosial turut menghadirkan tantangan baru terhadap nilai-nilai toleransi.
“Sebagai mahasiswa Nias yang hidup di tanah perantauan, kita adalah saksi hidup indahnya keberagaman Indonesia. Tantangan terbesar kita saat ini bukan lagi jarak geografis, melainkan ruang digital,” ujar Ide.
Ia menilai media sosial berpotensi menjadi ruang perpecahan apabila perbedaan pandangan tidak disikapi secara bijaksana.
Karena itu, kemampuan berbicara di depan umum dan menulis opini berbasis data dinilai penting untuk membangun diskusi yang sehat sekaligus menangkal provokasi.
“Melalui lomba public speaking, adik-adik kita dilatih menjadi suara penyejuk di ruang publik yang merangkul, bukan memukul,” katanya.
Ide juga menekankan pentingnya kemampuan literasi dalam menghadapi derasnya penyebaran informasi di media sosial.
“Satu artikel opini yang jernih dan berbasis data bisa menyelamatkan ribuan orang dari jebakan provokasi di media sosial,” tambahnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran pengurus aktif, kader, mantan pengurus, serta alumni PERMAS Kota Tanjungpinang.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama.
PERMAS berharap semangat persatuan yang digaungkan melalui kompetisi tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam membangun ruang digital yang lebih sehat, toleran, dan bebas dari provokasi.
(Kev)



















Tinggalkan Balasan