Bintan – Kelalaian dalam proses pengisian BBM di SPBU Kilometer 16 Toapaya, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, berujung fatal. Selang solar justru masuk ke tangki Pertalite saat pembongkaran dari mobil tangki Pertamina, membuat BBM yang kemudian dijual kepada masyarakat tercampur solar.

Kejadian serupa disebut pernah terjadi sebelumnya, sehingga peristiwa kali ini menjadi yang kedua, sekaligus memunculkan sorotan terhadap pengawasan di SPBU milik PT Sinar Mas Mustika Bintan tersebut setelah sejumlah warga mengaku kendaraannya mengalami kerusakan usai mengisi Pertalite.

Kanit Tipiter Polres Bintan, Iptu Daeng Salamun, menuturkan, pihaknya turun langsung ke SPBU tersebut pada Rabu pagi untuk memastikan informasi mengenai Pertalite bermasalah yang sebelumnya ramai diberitakan.

Kanit Tipiter Polres Bintan Iptu Daeng Salamun Saat diwawancara. | Foto: Kevin/Ulf

Salamun mengatakan pengecekan dilakukan setelah pihaknya menerima informasi mengenai warga yang mengeluhkan kendaraannya rusak usai mengisi Pertalite di SPBU tersebut.

“Kami cek ke sana tadi pagi. Karena ada pemberitaan itu kemarin, adanya masyarakat keluhkan terkait dengan kendaraannya rusak karena isi di situ. Makanya kita pastikan informasi itu, lalu terjunlah kita tadi ke lapangan,” kata Salamun saat diwawancarai Ulasfakta, Rabu (26/8/2026).

Dari pengecekan tersebut, polisi menemukan selang minyak solar justru masuk ke tangki Pertalite milik SPBU.

“Cek di SPBU-nya benar enggak, ternyata benar. Jadi memang dari selang minyak solar masuk ke Pertalite ke tangkinya SPBU,” ujarnya.

Salamun menjelaskan kesalahan tersebut terjadi saat mobil tangki Pertamina melakukan pengisian BBM ke tangki penyimpanan SPBU. Selang solar yang seharusnya masuk ke tangki solar justru masuk ke tangki Pertalite.

“Selang dari solar ke Pertalite, seharusnya kan solar ke solar dong,” katanya.

Peristiwa tersebut diketahui pada Jumat sekitar pukul 13.30 WIB. Pihak SPBU kemudian menghentikan penjualan Pertalite pada Sabtu.

“Dari pihak SPBU langsung tutup,” ujar Salamun.

Keluhan warga sebelumnya menjadi alasan polisi memastikan langsung kondisi di lapangan. Berdasarkan keterangan yang diperoleh polisi dari pihak SPBU, terdapat dua hingga tiga warga yang datang dan mengeluhkan kendaraan mereka.

“Kalau untuk yang ke SPBU, kemarin dari keterangan SPBU ya, ada dua hingga tiga orang yang datang ke sana mengeluhkan,” kata Salamun.

Terkait kendaraan warga yang mengalami kerusakan, Salamun mengatakan pihak manajemen SPBU menyampaikan akan mengganti biaya perbaikan dengan syarat konsumen menunjukkan bukti pembelian Pertalite saat kejadian.

“Kalau ada yang rusak tentunya dengan menunjukkan bukti pembelian Pertalitenya pada saat itu,” ujarnya.

Selain bukti pembelian, warga juga dapat menunjukkan bukti perbaikan dari bengkel untuk mengetahui kerusakan yang dialami kendaraannya.

“Bukti perbaikan bengkel nanti kelihatan di situ, ini dibongkar karena apa, apakah karburatornya yang rusak. Nanti diserahkan ke sana, nanti diganti. Itu informasi dari pihak manajemen SPBU,” katanya.

Foto perbedaan Pertalite yang diduga tercampur solar. (Foto: dok warga)

Namun, polisi belum menyimpulkan apakah masuknya solar ke tangki Pertalite tersebut murni akibat kelalaian atau terdapat unsur kesengajaan.

Salamun mengatakan pihaknya telah meminta keterangan awal dari manajemen SPBU. Dari keterangan awal tersebut, manajemen menyebut kesalahan terjadi karena salah menempatkan selang.

“Dari keterangan awal yang mereka sampaikan ke kita, mereka salah menaruh selang,” ujarnya.

Polisi masih mendalami bagaimana kesalahan tersebut bisa terjadi, termasuk kemungkinan adanya faktor kesengajaan.

“Kita lagi selidiki ada faktor kesengajaannya ada apa enggak,” tutur Salamun.

Jika nantinya ditemukan unsur kesengajaan, polisi memastikan akan mengambil tindakan hukum.

“Kalau kita temukan ada faktor kesengajaan, tentu kita lakukan tindakan hukum,” tegasnya.

Sementara untuk memastikan kandungan BBM, pengujian Pertalite yang tercampur solar menjadi ranah Pertamina. Salamun mengatakan sampel akan dikirim ke Pertamina Tanjung Uban karena kepolisian tidak memiliki keahlian teknis untuk memastikan kandungan BBM tersebut.

“Kalau pengujian yang tercampur Pertalite dan solar ranahnya di Pertamina,” kata dia.

Salamun menyebut SPBU Kilometer 16 Bintan dikelola PT Sinar Mas Mustika Bintan. Adapun direktur perusahaan tersebut disebut bernama Ira.

Untuk menangani BBM yang telah tercampur, tangki Pertalite akan dikuras dan dibersihkan sebelum kembali digunakan.

“Yang tercampur itu diambil, diangkat, dibersihkan, baru isi Pertalite baru,” ujarnya.

Pihak SPBU disebut akan kembali membuka penjualan Pertalite setelah proses pengurasan dan pembersihan selesai. Namun, polisi belum memastikan kapan layanan tersebut kembali berjalan.

Sebelumnya, motor warga dilaporkan rusak usai mengisi Pertalite di SPBU Km 16 Bintan. Warga menduga BBM yang mereka beli tercampur solar. Sejumlah motor disebut mengeluarkan asap hingga mengalami penurunan tenaga.

Salah seorang warga, Hendrik, mengatakan motornya rusak setelah mengisi Pertalite di SPBU Km 16. Motor miliknya kemudian harus masuk bengkel.

“Kemarin kami isi, sekarang motor masuk bengkel, klepnya pada bocor,” kata Hendrik, warga Toapaya, Selasa (25/8/2026).

Menurut Hendrik, kerusakan serupa dialami sejumlah rekannya. Selain mengeluarkan asap, motor mereka menjadi berat saat ditarik.

“Kawan saya di Sei Ladi juga mengalami hal yang sama,” ujarnya.

Hendrik mengatakan biaya perbaikan motor untuk sementara ditanggung sendiri. Ia berharap persoalan tersebut segera ditindaklanjuti.

Kini, setelah polisi turun ke lapangan, temuan justru menguatkan keluhan warga. Polisi menemukan selang solar masuk ke tangki Pertalite SPBU.

Polisi masih akan meminta keterangan pihak-pihak terkait untuk memastikan bagaimana kesalahan tersebut bisa terjadi dan siapa yang bertanggung jawab.

“Kita masih selidiki dulu. Kita masih penyelidikan tentunya kita ambil keterangan-keterangan yang ada di lapangan. Nanti pihak-pihak terkait dipanggil kembali, kita undang untuk mengetahui fakta sebenarnya,” jelas Salamun.

Temuan tersebut memperlihatkan persoalan serius dalam pengawasan di SPBU Km 16 Bintan. Kesalahan menempatkan selang membuat solar masuk ke tangki Pertalite dan BBM yang telah tercampur sempat tersalurkan kepada masyarakat hingga muncul keluhan kendaraan rusak.

Kini, alasan “salah menaruh selang” masih harus dibuktikan. Sebab, kesalahan dalam proses pengisian bukan hanya berakhir pada tercampurnya dua jenis BBM, tetapi juga membuat konsumen ikut menanggung dampaknya.

Polisi masih menyelidiki apakah kejadian tersebut murni kelalaian atau ada unsur kesengajaan serta siapa pihak yang harus bertanggung jawab.

Hingga berita ini diterbitkan, Ulasfakta masih terus berupaya menghubungi PT Sinar Mas Mustika Bintan dan Direktur Ira untuk memperoleh tanggapan terkait persoalan tersebut.

(Kev)