Tanjungpinang – Potensi kemunculan awan Cumulonimbus (Cb) yang dapat memicu hujan disertai kilat, petir, dan angin kencang menjadi perhatian BMKG dalam prakiraan cuaca tiga hari ke depan di wilayah Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan.
Kondisi tersebut diprakirakan terjadi pada periode 27 hingga 29 Juli 2026. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan maupun di wilayah perairan.
Prakirawan BMKG Tanjungpinang, Rizqi Nur Fitriani mengatakan, kondisi atmosfer saat ini masih mendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Kepulauan Riau, khususnya Tanjungpinang dan Bintan.
“Adanya potensi pertumbuhan awan hujan yang dapat disertai angin kencang dalam tiga hari ke depan juga perlu diwaspadai di sekitar wilayah perairan, karena dapat berpotensi meningkatkan ketinggian gelombang pada periode tertentu di sekitar wilayah Perairan Bintan,” ujar Fitriani saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Minggu (26/7/2026).
Ia menjelaskan, secara umum kondisi cuaca di Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan dalam tiga hari ke depan diprakirakan berawan dengan peluang hujan ringan hingga sedang yang bersifat lokal dan tidak merata.
Menurut Fitriani, kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktifnya gelombang atmosfer Equatorial Rossby di sekitar wilayah Kepulauan Riau serta masih adanya pola belokan angin (shearline) di sekitar Pulau Bintan.
“Pola belokan angin menyebabkan perlambatan massa udara sehingga mendukung pertumbuhan awan konvektif penghasil hujan di wilayah Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan,” tuturnya.
Ia menyebut, kondisi labilitas atmosfer dalam tiga hari ke depan masih berada pada kategori labil ringan hingga moderat. Hal itu menunjukkan adanya peluang terbentuknya awan Cumulonimbus yang dapat menghasilkan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang disertai kilat, petir, dan angin kencang.
Namun,Fitriani menegaskan potensi tersebut masih bersifat lokal dan tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah.
Sementara itu, hasil analisis dinamika atmosfer menunjukkan indeks ENSO 3.4, Indian Ocean Dipole (IOD), dan Madden-Julian Oscillation (MJO) tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan curah hujan di wilayah Pulau Bintan.
Meski demikian, suhu muka laut di sekitar perairan Pulau Bintan yang berada pada kisaran 29 hingga 30 derajat Celsius dengan anomali netral hingga positif masih mendukung ketersediaan uap air untuk pembentukan awan hujan.
“Prakiraan kelembapan udara untuk tiga hari ke depan di wilayah Pulau Bintan dari lapisan permukaan hingga 500 mb secara umum bernilai 30 sampai 100 persen, menunjukkan kondisi relatif cukup basah hingga sangat basah,” kata Fitriani.
Untuk kondisi perairan, BMKG memperkirakan tinggi gelombang di sekitar Perairan Bintan masih berada dalam kategori tenang hingga rendah, yakni berkisar 0,1 hingga 1,25 meter.
Meski demikian, masyarakat yang melakukan aktivitas di laut tetap diminta memperhatikan perkembangan cuaca. Sebab, pertumbuhan awan hujan yang disertai angin kencang berpotensi meningkatkan ketinggian gelombang pada periode tertentu.
Berdasarkan prakiraan BMKG, Kota Tanjungpinang pada Senin (27/7/2026) berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang pada pagi hari. Kondisi serupa juga berpeluang terjadi di wilayah Tanjungpinang Barat, Tanjungpinang Timur, dan Bukit Bestari.
Pada Selasa (28/7/2026), cuaca Tanjungpinang diprakirakan berawan dengan potensi hujan ringan pada siang hari. Kemudian pada Rabu (29/7/2026), hujan ringan hingga sedang berpotensi terjadi pada pagi hari.
Di Kabupaten Bintan, sejumlah wilayah seperti Bintan Pesisir, Bintan Timur, Bintan Utara, Gunung Kijang, Mantang, Sri Kuala Lobam, Toapaya, Teluk Bintan, Teluk Sebong, hingga Tambelan juga berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang pada periode pagi, siang, maupun dini hari.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca, terutama terhadap potensi petir dan angin kencang akibat pertumbuhan awan Cumulonimbus.
(Kev)




Tinggalkan Balasan