Tanjungpinang – Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah kawasan di Tanjungpinang. Kondisi tersebut berpotensi memicu gangguan kesehatan, mulai dari batuk dan iritasi saluran pernapasan hingga memperburuk penyakit paru.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PP dan KB) Kota Tanjungpinang, Rustam, mengatakan kualitas udara di Tanjungpinang mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir.

Berdasarkan data pemantauan, Air Quality Index (AQI) pada 4 September 2026 tercatat 66 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 17 µg/m³. Angka tersebut meningkat menjadi AQI 80 dengan PM2.5 sebesar 24,9 µg/m³ pada 9 September.

Pada 14 September 2026, AQI kembali meningkat hingga mencapai 134 dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 48,8 µg/m³.

Menurut Rustam, AQI pada rentang 101–150 masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Kondisi tersebut berisiko memengaruhi kesehatan anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, gangguan pernapasan, penyakit kronis maupun penyakit jantung.

“Artinya hampir mendekati tidak sehat tidak hanya pada populasi rentan tetapi juga pada populasi pada umumnya. Masyarakat secara umum, terkhusus mereka yang termasuk kelompok rentan mesti lebih waspada menjaga kesehatan,” ujar Rustam saat diwawancara Ulasfakta. Senin (14/9/2026).

Kondisi kualitas udara tersebut juga sangat memungkinkan menimbulkan batuk dan gangguan pada saluran pernapasan.

“Iya, kondisi kualitas udara saat ini sangat bisa menyebabkan batuk dan gangguan pada saluran pernapasan,” katanya.

Selain batuk, paparan udara dengan kualitas buruk dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung dan tenggorokan. Gejalanya dapat berupa mata merah atau berair, tenggorokan terasa gatal dan panas, pilek hingga bersin.

Paparan partikel udara juga berpotensi memperburuk kondisi penderita asma maupun bronkitis. Pada penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan gangguan pernapasan lainnya, paparan tersebut dapat memperparah kondisi yang sudah diderita.

Dalam kondisi tertentu, paparan partikel halus dalam waktu lama juga dapat menurunkan daya tahan tubuh dan meningkatkan risiko infeksi paru-paru.

Sementara itu, Prakirawan BMKG Tanjungpinang, Rizqi Nur Fitriani, mengatakan kabut asap yang memengaruhi wilayah Tanjungpinang dan Bintan terindikasi berasal dari kiriman asap dari Kalimantan. Kondisi tersebut juga berpotensi diperparah asap lokal apabila kebakaran lahan dan hutan meluas.

Berdasarkan pemantauan Citra Satelit Himawari pada 14 September 2026, wilayah Kepulauan Riau termasuk Pulau Bintan masih terindikasi terdampak kabut asap kiriman dari Kalimantan.

“Untuk kategori kualitas udara saat ini sudah mencapai pada tingkat yg perlu diwaspadai masyarakat ya, sehingga nantinya berpotensi berpengaruh terhadap kesehatan terutama ISPA,” kata Rizqi.

Karena kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan serta memperhatikan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar.

Dinkes juga mengingatkan masyarakat, terutama kelompok rentan, agar mengurangi aktivitas di luar rumah dan menjaga daya tahan tubuh selama kualitas udara memburuk.

“Penggunaan masker sangat dianjurkan. Selain itu, kurangi aktivitas di luar rumah, tingkatkan daya tahan tubuh dengan asupan gizi seimbang, konsumsi vitamin, dan istirahat yang cukup,” pungkas Rustam.

(Kev)