Tanjungpinang – Kabut asap mulai memengaruhi kualitas udara di Tanjungpinang dan Bintan. BMKG menyebut kondisi udara saat ini sudah berada pada tingkat yang perlu diwaspadai karena berpotensi berdampak terhadap kesehatan, terutama memicu gangguan pernapasan dan ISPA.

Perubahan kondisi tersebut terpantau di tengah indikasi kabut asap kiriman dari Kalimantan serta potensi asap lokal akibat kebakaran lahan dan hutan di sejumlah wilayah Pulau Bintan.

Prakirawan BMKG Tanjungpinang, Rizqi Nur Fitriani, mengatakan berdasarkan pemantauan Citra Satelit Himawari pada Senin (14/9/2026) pukul 08.00 hingga 13.00 WIB, wilayah Kepulauan Riau termasuk Pulau Bintan masih terindikasi terdampak kabut asap kiriman dari Kalimantan.

“Untuk kategori kualitas udara saat ini sudah mencapai pada tingkat yg perlu diwaspadai masyarakat ya, sehingga nantinya berpotensi berpengaruh terhadap kesehatan terutama ISPA,” kata Rizqi kepada Ulasfakta. Senin (14/9/2026).

Menurut Rizqi, kondisi cuaca di Pulau Bintan dalam beberapa hari terakhir didominasi cerah hingga berawan. Hujan ringan masih terjadi secara lokal, seperti di Kecamatan Teluk Sebong, Bintan, pada 10 September 2026, namun berlangsung dalam durasi singkat.

Sementara itu, pemantauan hotspot pada 14 September 2026 pukul 14.30 WIB tidak menemukan titik panas di sekitar Pulau Bintan. Meski demikian, berdasarkan pemantauan hotspot dan laporan BPBD, masih terdapat indikasi kebakaran lahan dan hutan di sejumlah wilayah Pulau Bintan.

“Kondisi tersebut berpotensi menghasilkan asap dan, apabila kebakaran meluas serta berlangsung dalam waktu yang lebih lama, dapat menyebabkan penurunan kualitas udara di wilayah sekitarnya,” ujarnya.

Rizqi juga menyebut jarak pandang mendatar berdasarkan pengamatan alat observasi di Stasiun Meteorologi Kelas II Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang berada pada kisaran 2 hingga 6 kilometer.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan jarak pandang di Tanjungpinang mengalami penurunan akibat asap. Bahkan, kondisi itu berpotensi mengganggu operasional penerbangan apabila jarak pandang turun hingga di bawah 5 kilometer.

Di tengah kondisi tersebut, BMKG mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Masyarakat juga diimbau menggunakan masker untuk mengurangi paparan udara yang berpotensi berdampak terhadap kesehatan.

Selain itu, masyarakat diminta mencegah munculnya sumber api yang dapat memperburuk kondisi kualitas udara.

(Kev)