Bintan – Dugaan perusakan kelong apung milik nelayan di Desa Berakit, Kabupaten Bintan, mulai diselidiki Polres Bintan setelah korban melaporkan hilangnya kelong beserta sejumlah perlengkapan melaut dengan total kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Peristiwa itu bermula saat nelayan bernama Akbar bersama rekan dan anak buahnya hendak mengoperasikan kelong apung di perairan Desa Berakit, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Rabu (20/5/2026) sekitar pukul 16.00 WIB. Namun setibanya di lokasi, kelong tersebut sudah tidak berada di titik tempat biasa dioperasikan.

Akbar kemudian mendapat informasi dari nelayan lain bahwa kelong miliknya diduga telah hilang. Ia bersama sejumlah nelayan lain langsung melakukan pencarian dengan menyisir perairan sekitar dan berkomunikasi antar sesama nelayan.

Pencarian dilakukan hingga malam hari sekitar pukul 23.30 WIB, namun kelong apung tersebut belum ditemukan.

Keesokan harinya, Kamis (21/5/2026) sekitar pukul 10.57 WIB, Akbar kembali menerima informasi bahwa tali jangkar kelong miliknya diduga sengaja diputus. Informasi itu diperkuat setelah nelayan lain mengaku melihat seseorang diduga melakukan pemutusan tali jangkar kelong milik nelayan lainnya.

Akbar mengaku mulai mencurigai sejumlah nelayan dari Desa Mantang setelah mendapat kabar bahwa kelong miliknya hanyut hingga ke wilayah perbatasan Malaysia.

Pada Jumat (22/5/2026) sekitar pukul 11.00 WIB, Akbar bersama rekan-rekannya berangkat menuju wilayah perbatasan untuk melakukan pencarian. Kelong tersebut akhirnya berhasil ditemukan dan ditarik kembali ke perairan Indonesia sebelum diletakkan di bibir pantai Desa Berakit pada Sabtu (23/5/2026) sekitar pukul 06.00 WIB.

Saat dilakukan pengecekan, korban mendapati sejumlah perlengkapan di atas kelong telah hilang, di antaranya dua fiber, dua gulung tali jangkar, serta satu buah jangkar.

Selain itu, Akbar juga menemukan sisa jaring yang tersangkut di bagian bawah kelong yang disebut bukan miliknya, serta bekas potongan pada tali jangkar kelong apung tersebut.

Akbar mengaku mengalami kerugian materiel dan nonmateriel yang ditaksir mencapai lebih dari Rp100 juta.

“Saya mengalami kerugian materiel dan nonmateriel. Hilangnya tali, fiber, dan jangkar mencapai sekitar Rp15 juta. Belum lagi biaya negosiasi dengan polisi perbatasan Malaysia dan lainnya, totalnya lebih kurang Rp100 juta,” ujarnya.

Atas kejadian tersebut, Akbar didampingi Ketua Nelayan Berakit, Dinar, melaporkan dugaan perusakan itu ke Polres Bintan.

Meski laporan dan pemeriksaan telah dilakukan, Akbar berharap penyidik segera menindaklanjuti kasus tersebut karena para nelayan mengaku resah terhadap potensi kejadian serupa saat melaut.

“Saya mohon kepada penyidik Polres Bintan agar serius menanggapi laporan kami. Kami selain banyak dirugikan, juga merasa resah saat ingin melaut jika sewaktu-waktu terjadi peristiwa perusakan kelong nelayan lainnya. Saya minta segera dipanggil orang-orang yang kami curigai,” katanya.