Tanjungpinang – Sekitar 30 wartawan lintas generasi di Kota Tanjungpinang berkumpul menikmati secangkir kopi bersama wartawan senior Kepulauan Riau, Ady Indra Pawennari. Tanpa agenda khusus maupun persiapan panjang, pertemuan tersebut menjadi ajang silaturahmi untuk merawat persaudaraan di tengah perbedaan organisasi dan perusahaan pers.
Pertemuan digelar di Kedai Kopi Mie Tarempa, Jalan D.I. Panjaitan Kilometer 7, Kelurahan Melayu Kota Piring, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Selasa (20/10/2026), mulai pukul 08.30 WIB.
Ady mengatakan, pertemuan itu bermula ketika dirinya masih berada di Kuala Lumpur, Malaysia. Sejumlah wartawan menghubunginya melalui telepon dan pesan WhatsApp untuk mengajak duduk bersama sambil menikmati kopi.
“Ketika saya berada di Kuala Lumpur, saya dapat telepon dan pesan WhatsApp ajakan ngopi dari beberapa wartawan. Saya langsung iyakan. Besok saya pulang, kita langsung ngopi,” ungkap Ady.
Sepulang dari Kuala Lumpur, ajakan tersebut langsung terlaksana secara spontan. Sekitar 30 wartawan dari berbagai generasi hadir, mulai dari mereka yang telah menekuni dunia jurnalistik sejak 1994 hingga wartawan generasi 2026.
Ady menegaskan, pertemuan tersebut murni menjadi ajang silaturahmi, bukan kegiatan yang dipersiapkan untuk kepentingan organisasi maupun agenda tertentu. Ia berharap kebersamaan itu tidak dikaitkan dengan dinamika atau kepentingan organisasi pers mana pun.
Menurut Ady, pertemuan antarwartawan tidak selalu harus dilandasi agenda organisasi. Kebersamaan juga dapat terjalin melalui percakapan sederhana, tanpa mempersoalkan jabatan, kedudukan, maupun perbedaan pandangan.
“Sejak awal saya hanya punya keinginan sederhana, bagaimana kawan-kawan wartawan bisa berkumpul semua, duduk bersama, dan bercengkerama tanpa sekat dan batas apa pun. Tidak perlu melihat siapa dari organisasi mana, siapa senior atau junior, karena kita semua adalah saudara yang dipertemukan oleh profesi yang sama,” ujar Ady.
Ia mengaku bersyukur karena ajakan yang disampaikan secara spontan itu mendapat sambutan hangat. Kehadiran wartawan lintas generasi menjadi kebahagiaan tersendiri baginya, terlebih di tengah dinamika dunia jurnalistik yang terus berkembang.
“Alhamdulillah, hari ini keinginan itu akhirnya terwujud. Melihat kawan-kawan dari berbagai generasi bisa hadir, tertawa, berbagi cerita, dan menyatu dalam suasana penuh kekeluargaan, tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya. Inilah yang ingin kita rawat, persaudaraan yang tulus tanpa membawa kepentingan apa pun,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, para wartawan saling bertukar pengalaman, mengenang perjalanan jurnalistik masa lalu, hingga membicarakan perkembangan dunia pers di tengah kemajuan teknologi informasi.
Tidak ada podium maupun rangkaian acara resmi. Wartawan senior dan generasi muda duduk berbaur, menikmati kopi, berbagi cerita, dan sesekali tertawa mengenang pengalaman selama menjalani profesi jurnalistik.
Bagi Ady, perbedaan organisasi, perusahaan media, maupun pandangan merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya merenggangkan hubungan persahabatan yang telah terbangun selama bertahun-tahun.
“Kita mungkin tidak selalu sejalan dalam pandangan, tetapi jangan sampai kehilangan jalan untuk bersilaturahmi. Organisasi boleh berbeda, pilihan boleh tidak sama, tetapi persaudaraan harus tetap dijaga. Jangan sampai kepentingan sesaat menghilangkan persahabatan yang sudah terbangun puluhan tahun,” tuturnya.
Ia berharap kebersamaan lintas generasi tersebut terus terpelihara dan menjadi ruang komunikasi terbuka bagi wartawan di Tanjungpinang, tanpa memandang latar belakang organisasi maupun perusahaan media tempat mereka bekerja.
Pertemuan yang berawal dari ajakan ngopi dadakan itu berlangsung akrab hingga menjelang siang. Di tengah kesibukan dan perbedaan dalam profesi, secangkir kopi menjadi ruang sederhana bagi para wartawan untuk kembali merawat persaudaraan.
(Kev)




Tinggalkan Balasan