Tanjungpinang – Penguatan literasi digital dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah maraknya kekerasan seksual berbasis digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi.

Hal itu mengemuka dalam Seminar Kekerasan Seksual di Zaman Digital yang digelar Himpunan Mahasiswa Riau Kepulauan Riau di Kampus STAIN Sultan Abdurrahman, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Sabtu (21/6/2026).

Seminar yang mengusung tema Bersama Menciptakan Ruang Digital yang Aman dari Kekerasan Seksual tersebut diikuti mahasiswa dan civitas akademika sebagai bagian dari upaya edukasi terkait meningkatnya ancaman kekerasan seksual di ruang siber.

Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tanjungpinang, Teguh Susanto, mengatakan perkembangan teknologi digital membawa banyak manfaat, namun juga menghadirkan tantangan apabila tidak diimbangi dengan literasi digital dan etika bermedia.

“Ruang digital hari ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda. Namun, tanpa literasi digital yang baik, ruang ini sangat rentan disalahgunakan, termasuk untuk tindakan kekerasan seksual berbasis digital,” kata Teguh.

Menurutnya, bentuk kekerasan seksual di ruang digital dapat berupa pelecehan melalui pesan daring, penyebaran konten pribadi tanpa persetujuan, ancaman digital, hingga penyalahgunaan data dan identitas korban.

Ia menilai dampak kejahatan tersebut tidak hanya menimbulkan trauma secara psikologis, tetapi juga meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus.

“Sekali konten tersebar di internet, jejaknya sangat sulit dihapus. Karena itu, pencegahan menjadi kunci utama, dimulai dari kesadaran individu dalam menjaga data pribadi dan bertanggung jawab dalam menggunakan media digital,” ujarnya.

Teguh mengatakan Pemerintah Kota Tanjungpinang melalui Diskominfo terus mendorong terciptanya ekosistem digital yang aman, inklusif, dan beradab melalui program literasi digital, edukasi etika bermedia sosial, serta kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Kami di Pemko Tanjungpinang tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan sinergi antara pemerintah, kampus, komunitas, dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga ruang digital agar tidak menjadi ruang yang menakutkan, khususnya bagi perempuan dan anak,” katanya.

Selain menghadirkan Teguh Susanto, seminar tersebut juga menghadirkan Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Tanjungpinang, Zakiah, yang memaparkan mekanisme perlindungan dan layanan pendampingan bagi korban kekerasan seksual. Kegiatan itu dipandu oleh Asifa Nur Aisyah.

Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Kota Tanjungpinang berharap generasi muda dapat menjadi pelopor dalam menciptakan budaya digital yang sehat, saling menghormati, dan bebas dari berbagai bentuk kekerasan.

“Ruang digital yang aman bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama,” tutup Teguh.