Oleh: Adiya Prama Rivaldi, S.H. (Ketua Jaringan Pengawas Kebijakan Pemerintah) Provinsi Kepulauan Riau.
Juni 2026.
Bulan ini, jalan-jalan di berbagai kota besar Indonesia kembali menjadi saksi bahwa denyut demokrasi belum mati. Dari Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Makassar hingga Pekanbaru, ribuan mahasiswa turun ke jalan. Mereka membawa spanduk, pengeras suara, dan yang paling penting iyalah kegelisahan.
Kegelisahan atas ekonomi yang semakin berat.
Kegelisahan atas harga kebutuhan pokok yang terus naik.
Kegelisahan terhadap berbagai kebijakan yang dianggap tidak lagi berpihak pada rakyat.
Mereka tidak sedang mencari popularitas. Mereka tidak sedang mengejar panggung. Mereka hanya sedang menjalankan peran yang sejak lama melekat pada mahasiswa Indonesia: penjaga nurani bangsa.
Di Jakarta, lautan manusia memenuhi kawasan Bundaran HI hingga Patung Kuda. Suara orasi bersahutan.
“Jika rakyat menjerit, mahasiswa tidak boleh diam!”
Di Yogyakarta, mahasiswa berdiri di tengah terik matahari, membawa poster dan tuntutan. Mereka mengingatkan pemerintah bahwa demokrasi tidak boleh kehilangan pengawasnya.
Di Surabaya, mahasiswa dan masyarakat sipil bersatu menyuarakan kritik terhadap berbagai kebijakan nasional.
Bandung bergerak.
Semarang bergerak.
Makassar bergerak.
Bahkan di kota-kota yang selama ini jarang menjadi pusat sorotan nasional, mahasiswa tetap turun dengan satu keyakinan, diam bukan pilihan ketika rakyat sedang menghadapi banyak persoalan.
Lalu publik pun mulai bertanya.
Di mana mahasiswa Kepulauan Riau?
Pertanyaan ini perlahan berubah menjadi tanda tanya besar.
Ke mana suara mahasiswa Kepri?
Provinsi yang berdiri di garis depan Indonesia. Wilayah yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia. Daerah yang selama bertahun-tahun menghadapi berbagai persoalan strategis.
Tentang eksploitasi laut.
Tentang reklamasi.
Tentang mahalnya biaya hidup.
Tentang kesenjangan pembangunan antarpulau.
Tentang investasi yang sering kali menyisakan pertanyaan, sebesar apa manfaatnya untuk masyarakat lokal?
Tentang sumber daya alam yang terus diambil, tetapi kesejahteraan rakyat belum sepenuhnya terasa.
Bukankah semua itu adalah isu yang selama ini menjadi ruang perjuangan mahasiswa?
Namun mengapa justru ketika mahasiswa Indonesia kembali bergerak, suara mahasiswa Kepri terdengar begitu sunyi?
Apakah mereka sedang menyusun kekuatan?
Apakah mereka sedang memilih strategi lain?
Ataukah ada sesuatu yang telah berubah?
Padahal sejarah Kepri tidak pernah kekurangan anak muda yang berani.
Dari Batam hingga Tanjungpinang, dari Karimun hingga Natuna, gerakan mahasiswa pernah menjadi kekuatan moral yang diperhitungkan.
Mereka pernah mengkritik kebijakan pemerintah.
Mereka pernah mengawal isu lingkungan.
Mereka pernah berdiri paling depan ketika rakyat membutuhkan suara.
Mahasiswa Kepri pernah menjadi harapan.
Karena itu, ketika hari ini jalan-jalan di berbagai kota Indonesia dipenuhi semangat perlawanan, masyarakat tentu bertanya-tanya:
Mengapa kampus-kampus di Kepri justru terlihat tenang?
Apakah mahasiswa sudah merasa semua persoalan selesai?
Tentu tidak.
Faktanya, persoalan di Kepri justru semakin kompleks.
Harga kebutuhan pokok masih menjadi beban.
Nelayan menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Isu kerusakan lingkungan terus muncul.
Persoalan tata kelola wilayah pesisir dan laut masih menjadi perhatian.
Kesenjangan antara pusat pertumbuhan ekonomi dan daerah-daerah kepulauan masih terasa.
Belum lagi persoalan pengangguran, pendidikan, dan kesempatan kerja bagi generasi muda.
Kalau bukan mahasiswa yang bersuara, lalu siapa?
Gerakan mahasiswa tidak selalu berarti turun ke jalan.
Ia bisa berupa kajian.
Ia bisa berupa kritik yang tajam.
Ia bisa berupa advokasi.
Ia bisa berupa gagasan.
Tetapi satu hal yang pasti:
Gerakan mahasiswa tidak pernah identik dengan diam.
Karena diam yang terlalu lama sering kali berubah menjadi pembiaran.
Dan pembiaran adalah awal dari matinya daya kritis.
Sebagian pihak mungkin beranggapan bahwa zaman sudah berubah.
Mahasiswa hari ini tidak harus sama seperti mahasiswa 1998.
Benar.
Tetapi nilai-nilai yang diperjuangkan tidak pernah berubah.
Keberanian.
Kejujuran.
Keberpihakan kepada rakyat.
Itulah yang membuat mahasiswa selalu memiliki tempat istimewa dalam sejarah bangsa ini.
Sejarah Indonesia tidak dibangun oleh mereka yang memilih nyaman.
Sejarah dibangun oleh mereka yang berani bertanya.
Mereka yang berani mengkritik.
Mereka yang berani berdiri ketika banyak orang memilih duduk diam.
Kini, Juni 2026 hampir berlalu.
Mahasiswa Indonesia telah menunjukkan bahwa api itu masih ada.
Api perlawanan.
Api kepedulian.
Api keberanian.
Lalu bagaimana dengan Kepulauan Riau?
Akankah mahasiswa Kepri kembali menunjukkan jati dirinya sebagai kekuatan moral?
Akankah mereka hadir membawa gagasan dan keberanian untuk mengawal masa depan daerahnya?
Ataukah sejarah akan mencatat bahwa ketika mahasiswa Indonesia bergerak bersama, Kepri justru memilih menjadi penonton?
Pertanyaan itu masih menggantung.
Dan publik masih menunggu.
Karena di negeri ini, mahasiswa bukan sekadar status akademik.
Mereka adalah harapan.
Mereka adalah suara yang seharusnya tidak pernah hilang.
Dan ketika suara itu menghilang, yang kehilangan bukan hanya kampus.
Tetapi juga rakyat yang menunggu ada yang berani berbicara untuk mereka.




Tinggalkan Balasan