Batam – Imbauan agar masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing muncul menyusul dugaan penghinaan terhadap suku Melayu yang beredar di media sosial di wilayah Batam.
Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Kota Batam–Tanjungpinang (HMKB), Frando Sipayung, menilai peristiwa tersebut berpotensi memicu gesekan sosial jika tidak disikapi secara bijak oleh masyarakat.
Ia menyebut ruang digital seharusnya menjadi sarana komunikasi yang sehat di tengah keberagaman masyarakat Kepulauan Riau, bukan memunculkan perpecahan antar kelompok.
Batam, kata dia, merupakan kota yang tumbuh dari keberagaman suku seperti Melayu, Batak, Jawa, Minang, Bugis, hingga Tionghoa yang selama ini hidup berdampingan dan berkontribusi dalam pembangunan daerah.
HMKB menegaskan penolakan terhadap segala bentuk penghinaan yang merendahkan identitas suku, ras, maupun kelompok tertentu.
“Tidak ada satu pun alasan yang dapat membenarkan tindakan yang merendahkan martabat suatu suku,” ujar Frando, Selasa (2/6/2026).
Ia juga meminta masyarakat tidak memperluas persoalan dan menyerahkan penanganannya kepada aparat penegak hukum agar situasi tetap kondusif.
Selain itu, HMKB mengapresiasi langkah Lembaga Adat Melayu Kota Batam yang telah menjatuhkan sanksi kepada pihak yang diduga terlibat, serta berharap hal tersebut menjadi pembelajaran bersama.
Frando turut mengingatkan pentingnya sikap bijak dalam menggunakan media sosial di tengah keberagaman masyarakat.
“Jangan karena satu ucapan, kita merusak persaudaraan yang telah dibangun bertahun-tahun,” katanya.
HMKB Tanjungpinang menegaskan keberagaman harus dipahami sebagai kekuatan sosial yang perlu dijaga bersama, bukan menjadi sumber perpecahan.




Tinggalkan Balasan