Tanjungpinang – Peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Tanjungpinang dalam dua tahun terakhir mendorong Pemerintah Kota Tanjungpinang memperkuat pendampingan korban serta pembinaan karakter anak. Sejumlah pelaku bahkan tercatat berasal dari kalangan usia sekolah.
Data tersebut disampaikan dalam pelatihan trauma healing dan pendampingan korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang digelar DPPPAPM Kota Tanjungpinang di Hotel Aston Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Rabu (20/5/2026).
Data UPTD PPA Kota Tanjungpinang mencatat, pada 2024 terdapat 80 anak menjadi korban kekerasan dan 12 anak sebagai pelaku. Angka itu meningkat pada 2025 menjadi 99 anak sebagai korban dan 18 anak sebagai pelaku.
Sementara kasus kekerasan terhadap perempuan meningkat dari 55 kasus pada 2024 menjadi 64 kasus pada 2025.
Sedangkan hingga April 2026, tercatat 32 anak menjadi korban kekerasan dan 10 anak sebagai pelaku. Untuk kasus kekerasan terhadap perempuan, terdapat 17 korban yang tercatat dalam penanganan UPTD PPA Kota Tanjungpinang.
Sekretaris Daerah Kota Tanjungpinang Zulhidayat mengatakan meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak menjadi pekerjaan rumah bersama, terutama karena mulai banyak pelaku berasal dari kalangan pelajar.
“Ini yang cukup memprihatinkan. Anak-anak sekolah ada yang terlibat sebagai pelaku kekerasan. Ini menjadi PR kita bersama,” ujar Zulhidayat.
Menurutnya, Pemko Tanjungpinang mulai memperkuat pembinaan karakter dan pendidikan agama di sekolah melalui program mengaji 15 menit sebelum pelajaran dimulai.
Sementara itu, Plt Kepala DPPPAPM Kota Tanjungpinang Marzul Hendri mengatakan meningkatnya angka laporan juga menunjukkan mulai tumbuhnya keberanian masyarakat untuk melapor kasus kekerasan.
“Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak seperti fenomena gunung es. Sekarang masyarakat mulai berani speak up,” katanya.
Pelatihan tersebut diikuti 69 peserta dari kalangan guru, aparat kecamatan dan kelurahan, kepolisian, Satpol PP hingga relawan pendamping korban.




Tinggalkan Balasan